JAKARTA – Untuk mendorong perekonomian nasional, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan agar suku bunga kredit perbankan bisa turun lebih rendah di bawah 10%.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso seusai bertemu Presiden Jokowi di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/8).

“Arahan Presiden Jokowi, yang jelas minta supaya suku bunga kredit bisa diturunkan, karena inflasi sudah rendah, suku bunga acuan BI 7 – Day Reverse Repo Rate sudah 4,5%. Logikanya harus di turunkan yang diikuti oleh penurunan suku bunga deposito,” kata Wimboh.

Turut hadir dalam rapat Jokowi tersebut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo.

Wimboh mengungkapkan, penurunan bunga deposito bisa menjadi modal awal pemerintah Jokowi mendorong kepada seluruh perbankan di Indonesia untuk menurunkan suku bunga kredit.

Namun, hal tersebut dilakukan tanpa harus memberikan dampak negatif terhadap industri perbankan. “Kalau suku bunga dana turun, berarti suku bunga-kredit bisa turun ke bawah, tinggal suku bunga di dana bisa turun atau tidak,” tambahnya.

Akan tetapi, lanjut dia, agar hal tersebut bisa berjalan mulus, maka diperlukan instrumen khusus. Hal itu untuk menghindari munculnya peluang spekulasi. “Jadi mendorong untuk investasi, arahkan ke sana. Kalau suku bunga diturunkan akan beralih ke investasi yang menghasilkan bunga. Kalau merasa bunga deposito kurang menguntungkan beralih ke investasi, maka media investasinya kita ciptakan. Perusahaan harus banyak yang IPO (initial public offering-Red) di pasar modal.

Perusahaan harus banyak keluarkan surat utang, sehingga nanti surat utang berupa bonds, orang bisa investasi. Tapi jangan sampai menciptakan untuk spekulasi. Nah, kalau minta spekulasi ada mekanismenya, mengontrol,” ungkap dia. Sempat disinggung Jokowi pula soal kebijakan capping (batas maksimum) bunga deposito, namun Wimboh meyakini bahwa hal tersebut diperlukan ketika adanya anomali. Sementara dalam posisi sekarang, masih terbilang normal.

“Capping itu hanya dalam kondisi anomali, sekarang masih oke, suku bunga deposito sekarang masih average 6% masih oke, sehingga nanti ke depan kalau capping itu kan temporer,” ungkap dia.

Perang Bunga Deposito

Meski begitu, dalam kesempatan itu, Jokowi juga memperingatkan agar tidak ada lagi perang bunga deposito di perbankan dalam negeri. Sebab tahun lalu, perang bunga deposito menjadi persoalan serius.

Dicurigai, hal tersebut yang membuat bunga deposito sulit diturunkan di bawah, sehingga bunga kredit masih tetap tinggi. Gubernur BI, Agus Martowardojo menyatakan, BI minta mengupayakan agar tidak ada deposan-deposan yang saling bersaing meminta bunga tinggi, sebab hal itu biasanya yang membuat bunga kredit jadi susah turun.

”Terjadinya perang bunga deposito tak terlepas dari kondisi likuiditas perbankan yang sempat seret. Sehingga untuk menampung dana, perbankan memberikan penawaran bunga tinggi kepada para deposan,” kata Agus.

Setahun berjalan, lanjut dia, seiring dengan penurunan suku bunga acuan, suku bunga kredit sudah mengalami penurunan. Akan tetapi penurunannya sangat pelan, belum sampai di bawah 10% sesuai keinginan Presiden Jokowi.

Menurut Agus, dirinya juga melaporkan kepada Jokowi tentang pertumbuhan kredit perbankan hingga Juli 2017, di mana secara tahun kalender hanya tumbuh 3,1%. “Tetapi pertumbuhan kredit year to date itu mungkin cuma 3,1%. Jadi year to date itu pelan menurut Jokowi,” katanya.

Agus menyebutkan, penyaluran kredit yang pelan dikarenakan perbankan cenderung melihat dari risiko meningkatnya non performing loan (NPL) atau kredit bermasalah. ”Pada awal 2017, tingkat NPL terus bergerak dari 2,4% naik ke 2,9%. Tetapi itu tadi kita laporkan pada Jokowi bahwa itu semua di dalam range yang tidak mengkhawatirkan. Tetapi kita juga tahu bahwa pertumbuhan kredit yang pelan ini mungkin karena banyak dunia usaha yang masih ingin minta melihat bagaimana perkembangan harga komoditas,” kata Agus.