Bercerita Tentang Kampung Tegal, Film “Turah” Jadi Wakil Indonesia di Oscar 2018

JAKARTA – Dari 130 lebih film wakil Tanah Air yang dinilai anggota komite Oscar 2018 kategori film berbahasa asing terbaik atau Best Foreign Language, akhirnya film Turah produksi Empat Warna Media ditetapkan untuk mewakili Indonesia pada ajang Academy Awards 2018.

Penetapan tersebut didasarkan pada kemenarikan film ini baik secara tema maupun unsur-unsur pendukung. “Film Turah sesuai dengan karakter Oscar dengan berbagai karakteristiknya,” ujar Christine Hakim, Ketua Komite Seleksi yang beranggotakan 13 insan film, di Jakarta, Selasa (19/9).

Christine menambahkan, Turah bercerita sangat jujur, tidak genit, apalagi berniat bercerita menjual kemiskinan. Turah juga bercerita menampilkan kemunafikan secara estetis.

Yang paling utama, konten film ini bercerita sangat kuat, meski secara teknis kalah jauh dari film Hollywood. Academy Awards ke-90 akan digelar di Dolby Theatre Hollywood, 4 Maret 2018.

Anggota Komite Seleksi Mathias Muchus mengatakan, tentang film Turah sebagai wakil di Oscar karena terkonsep dengan bagus. “Konten dan teknis nge-blend, bagus semua,” katanya. Sebelumnya, Academy of Motion Pictures Arts and Sciences (AMPAS) selaku penyelenggara Academy Awards atau Oscar untuk kali kesekian menunjuk wakil Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) untuk memilih satu film Indonesia guna bertarung pada kategori Best Foreign Language.

Tokoh Turah: Cuplikan adegan dialog bercerita Turah dan istri, Kanthi dalam film Turah.
Tokoh Turah: Cuplikan adegan dialog bercerita Turah dan istri, Kanthi dalam film Turah.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, PPFI membentuk komite yang beranggotakan insan film Indonesia dari berbagai disiplin ilmu untuk menentukan satu sinema Indonesia terpilih. Dikepalai Christine Hakim, anggota komite kali ini terdiri atas Alim Sudio, Benni Setiawan Fauzan Zidny, Firman Bintang, Jenny Rachman, Marcella Zalianty, Mathias Muchus, Reza Rahadian, Roy Lolang, Tya Subiyakto, Wina Armada, dan Zairin Zain.

Turah bercerita tentang kekalahan yang sudah menjadi makanan sehari-hari warga Kampung Tirang Tegal. Mereka tidak pernah tahu tentang arti mimpi. Yang mereka tahu, mereka bisa hidup sehari-hari di kampung akibat welas asih Darso dan Pakel, juragan kampung Tegal nan kaya raya. Hidup mereka seakan didikte, tanpa pernah tahu bagaimana harus memberontak.

Indonesia mendaftarkan film ke ajang Oscar sejak 1987. Saat itu yang menjadi wakil jagoan Oscar Indonesia adalah Nagabonar garapan MT Risyaf. Film lain yang pernah dikirim ke Oscar antara lain film Tjoet Njaí Dhien, film Daun di Atas Bantal, film Ca Bau Kan, film Biola Tak Berdawai, film Gie, film Berbagi Suami, film Denias Senandung di Atas Awan, film Alangkah Lucunya (Negeri Ini), film Sang Penari, film Sang Kiai.

Tahun lalu, Indonesia diwakili film Surat dari Praha. Namun, belum ada satu pun di antara film-film itu yang masuk nomine Oscar. Sutradara film Turah Wicaksono Wisnu Legowo mengaku tak menyangka tentang karyanya dikirim ke pergelaran prestisius di AS itu.

Sebelum ini, Turah telah ditayangkan di sejumlah festival film. Film yang melibatkan para pemain lokal yang belum terkenal itu pun meraih sejumlah penghargaan. “Nggak menyangka, Turah umurnya bisa sepanjang ini. Sudah hampir setahun dan ternyata Turah masih ada yang mengapresiasi Turah. Sejak 2016 akhir, lalu Turah masuk festival, terus jadi masuk film bioskop bulan lalu dan hanya bertahan dua minggu lebih di Tegal,” tuturnya.

Film itu memang tak bertahan lama di bioskop.”Turun bioskop, sekarang dipercaya mewakili Oscar,” imbuh Wicaksono.

Film Ala Kadarnya

Ia menuturkan, awalnya Turah digarap bercerita ala kadarnya. Yang penting film beres. Tak pernah ia berpikir tentang akan mendapat apresiasi. Sutradara film yang memulai karier di dunia sinema sejak 2010 lewat film pendek ini kemudian menceritakan tentang proses menggarap Turah. Itu bermula dari kepercayaan Ifa Isfansyah, produser, untuk membuat film pertama pada 2014.

“Saya bikin cerita dan naskah Turah jadi pada 2014, tapi belum syuting. Lalu 2016 bikin skenario, dua jam kemudian Mas Ifa langsung mau bikin film ini. Skrip terserah saya dan dikasih kuasa penuh. Baru setelah itu jadi Mas Ifa yang medistribusikan film ini ke mana-mana,” ujarnya.

Cerita Turah diangkat dari kehidupan sebuah kampung di Tegal bernama Tirang. Menurutnya, kehidupan itu cukup tergambar dalam trailer yang ia suguhkan.

“Hanya beberapa kilometer jaraknya dari kampung saya, di sana nggak ada air dan listrik. Saya pernah bikin film pendek di sana tahun 2010, tapi pertama kali lihat kampung Tirang pada 2006,” kata Wicaksono bercerita.