Efek Vaksin Imunisasi Rubella pada Anak

Selama Agustus dan September 2017 pemerintah menggelar imunisasi campak dan rubella (measles – rubella) bagi anak usia 9 bulan hingga 15 tahun, di sekolah-sekolah, posyandu, puskesmas, dan berbagai pelayanan kesehatan lainnya secara gratis.

Wabah rubella yang pernah terjadi dan menyerang pada bayi serta anak-anak di Indonesia pada 2010-2015, merupakan alasan untuk mencegah penyebaran penyakit rubella tersebut. Sepanjang 2010-2014 terjadi 1.008 wabah campak yang menyerang 83.391 bayi di Indonesia. Pemerintah pun melakukan penelitian laboratorium selama kurun waktu 2010-2015, dan ditemukan 6.309 anak terjangkit rubella, di mana 77%-nya berusia di bawah 15 tahun. Karena itu, pemberian vaksin measles rubella (MR) secara massal, bertujuan untuk mengendalikan kedua penyakit tersebut.

Apa itu measles dan rubella?

Kedua penyakit ini termasuk jenis infeksi menular, di mana penularannya melalui saluran napas yang disebabkan virus. Keduanya memiliki gejala yang mirip, yakni badan panas dan muncul ruam-ruam merah pada sekujur tubuh. Gejala tersebut mirip dengan demam biasa, sehingga terkadang lambat terdeteksi.

”Pada 2011 WHO menyarankan ke seluruh negara untuk mewajibkan imunisasi campak dan rubella pada anak usia minimal 9 bulan. Pada 11 Januari 2016, WHO langsung menginstruksikan kepada Ikatan Komite Penasihat Imunisasi Indonesia (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization; ITAGI) supaya memberikan vaksin MR, untuk imunisasi guna menurunkan angka rubella dan Congenital Rubella Syndrome(CRS),” jelas dr MMDEAH Hapsari SpA(K), dari RSDK (RSUPdr Kariadi) Semarang.

Ia mengatakan, meski bisa saja menyerang orang dewasa, meisles-rubella banyak di derita anak-anak. ”Yang berbahaya, kalau MR menyerang wanita yang sedang hamil, karena bisa menyebabkan kecacatan pada janin yang di kandungnya.”

Kecacatan yang bisa terjadi pada janin, bila usia kehamilan di bawah tiga bulan atau kehamilan pada trimester pertama. Tentu saja ini karena sedang dalam proses pembentukan janin.

Kecacatan bawaan atau Congenital Rubella Syndrome (CRS) yang paling banyak yakni kelainan jantung (79,5%), katarak (67,6%), keterbelakangan mental (50%), otak tidak berkembang (48,6%), tuli (31,3%), dan radang otak (9,5 %). Semuanya merupakan kejadian di Indonesia selama rentan waktu 2010-2015. Bila bayi diberikan satu kali vaksin saja, tubuhnya memiliki ‘benteng’pertahanan hingga 95%. Dan bila diberikan lebih dari sekali, maka tubuhnya bisa 100% kebal terhadap measles rubella.

Efek Koinsidensi

Setiap pemberian vaksin pasti ada reaksi atau efek sampingnya. Lima hari setelah vaksin, biasanya efek tubuh sang bayi atau anak akan demam, dan terjadi ruam pada tubuhnya. Demam yang berlangsung biasanya hanya sampai tiga hari. Bila lebih dari tiga hari masih demam, sang buah hati atau anak harus diperiksa. Atau apabila anak mengalami efek samping lain setelah diberi vaksin, harus diketahui penyebabnya.

”Yang harus diketahui orang tua, ada efek koinsidensi vaksin, yakni kejadian yang bersamaan dengan penyuntikan vaksin, di mana vaksin bukan sebagai penyebabnya. Maksudnya, ketika anak menerima imunisasi, sebenarnya tubuhnya sedang dalam kondisi berjalannya suatu penyakit (masa tunas), yang tidak ada hubungannya dengan vaksin yang diberikan,” jelas Hapsari.

Misalnya, sebelum disuntik vaksin sang anak digigit nyamuk Aedes aegypti. Pada saat disuntik vaksin badannya belum panas, karena penyakitnya sedang dalam perjalanan. Setelah imunisasi, maka panasnya tidak turun-turun meski lebih dari tiga hari, karena telah terjangkit demam berdarah.

Efek ini masuk dalam jenis Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI). Jadi, berbagai reaksi setelah pemberian vaksin, ‘tersangkanya’ bukan dari vaksin itu sendiri. Karena itu, orang tua bisa lebih jeli dalam memperhatikan kondisi kesehatan anak-anaknya.

Reaksi lain yang juga perlu Anda ketahui setelah pemberian vaksin adalah alergi vaksin. Ada beberapa anak, yang secara genetik memiliki reaksi alergi terhadap obat atau jenis komponen yang terkandung dalam vaksin. Bila sudah diketahui anak memiliki alergi terhadap komponen tertentu vaksin, misalnya protein telur dalam vaksin campak, gondong, influenza, dan demam kuning, maka selanjutnya tidak boleh diberikan vaksin yang sama.

Untuk menghindari efek samping di luar reaksi wajar setelah pemberian imunisasi, orang tua harus bisa menyikapi vaksin dengan bijak. Hapsari menerangkan, ada tiga kondisi, di mana anak tidak boleh diberikan vaksin rubella. Yakni ketika sedang demam, flu berat bukan hanya batuk ringan atau flu serta batuk alergi dan diare. Orang tua juga harus tahu apakah anaknya memiliki alergi terhadap komponen obat vaksin.