Apa yang dimaksud dengan Terapi Perilaku Kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy ? – Psikologi

 

Cognitive Behavior Therapy (CBT) merupakan salah satu bentuk psikoterapi yang didasarkan pada teori bahwa tanda-dan gejala fisiologis berhubungan dengan interaksi antara pikiran, perilaku dan emosi (Pedneault, 2008).

Menurut Epigee (2009) CBT merupakan terapi dimana didasari dari gabungan beberapa intervensi yang dirancang untuk merubah cara berpikir dan memahami situasi dan perilaku sehingga mengurangi frekuensi reaksi negatif dan emosi yg mengganggu.

Menurut Martin (2010) CBT adalah suatu terapi psikososial mengintegrasikan modifikasi perilaku melalui pendekatan restrukturisasi kognitif.

Menurut Center for CBT (2006) CBT adalah terapi dimana berfokus pada masalah, bersifat aktif dan secara langsung membantu klien untuk melihat apa sebenarnya penyebab mereka tertekan.

Menurut FIK-UI (2009) Cognitive behaviour therapy merupakan psikoterapi jangka pendek, yang menjadi dasar bagaimana seseorang berfikir dan bertingkah laku positif dalam setiap interaksi. Cognitive behaviour therapy berfokus pada masalah, berorientasi pada tujuan dan kesuksesan dengan masalah disini dan sekarang.

Cognitive Behavior Therapy

adalah untuk memodifikasi fungsi berfikir, perasaan, bertindak, dengan menekankan fungsi otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, berbuat, dan mengambil keputusan kembali. Dengan merubah status pikiran dan perasaannya, klien diharapkan dapat merubah perilaku negatif menjadi positif (Oemarjoedi, 2003). CBT pada klien PTSD bertujuan untuk memutuskan hubungan negatif yang tercipta antara pikiran dan perilaku (Parsons, 2009). Diharapkan akhirnya dengan putusnya hubungan antara pikiran dan perilaku yang negatif, maka secara keseluruhan cara berpikir dan berperilaku individu tersebut tidak mengarah pada maladaptif.

CBT bertujuan agar klien memiliki pola pikir yang positif sehingga perilaku yang terlihat juga positif atau adaptif. Dengan pemberian CBT, klien diharapkan mampu mengatasi masalah yang timbul dengan cara yang konstruktif.

Karakteristik CBT


Beberapa karakteristik dari Cognitive Behaviour therapy (Stuart & Laraia, 2005; NACBT, 2007) , yaitu :

  • Empirically based (berdasarkan pada pembuktian atau hasil penelitian)
    Metode psikoterapi ini perlu didukung pembuktian yang luas untuk mengatasi banyaknya masalah klinis.
  • Goal oriented (berorientasi pada tujuan)
    Pasien dan terapis mengidentifikasi tujuan yang jelas dengan menggunakan evaluasi perkembangan pasien dan hasil yang telah dicapai.
  • Practical (lebih merupakan praktek)
    Pasien dan terapis berfokus pada penjelasan dan pemecahan masalah kehidupan, mendiskusikan masalah saat ini dan sekarang bukan riwayat pasien.
  • Collaborative (kerjasama)
    Kerjasama dan partisipasi aktif pasien dalam proses terapi sangat diperlukan karena dapat membantu pasien untuk berubah.
  • Open (terbuka)
    Proses dalam terapi ini adalah terbuka dan fleksibel dimana antara pasien dan terapis dapat berdiskusi didalam proses terapi.
  • Homework (tugas pekerjaan rumah)
    Pasien diberikan tugas rumah untuk mengumpulkan data terkait dengan keterampilan yang dimiliki, dan memberikan penguatan terhadap respons tersebut.
  • Measurements (ada pengukuran)
    Data dasar penilaian masalah perilaku di buat selama proses pengkajian Penilaian tersebut di ulang selama interval yang teratur dan sampai pada penyelesaian tindakan. Proses tindakan tersebut diawasi secara ketat.
  • Active (aktif)
    Perubahan dan kemajuan yang bermakna dalam perawatan pasien dapat memberikan dampak pada kualitas hidup pasien. Baik pasien ataupun therapis aktif dalam therapy. Therapis adalah sebagai pembimbing dan pelatih dan pasien mempraktekkan strategi pembelajaran dalam therapy.
  • Short term (jangka pendek)
    CBT biasanya digunakan dalam jangka waktu yang pendek yang terdiri dari 6 sampai 20 sesi.

Model terapi perilaku kognitif

Terapi ini digunakan untuk mengontrol ketakutan yang dirasakan. Dalam terapi ini terapis membantu klien untuk menghadapi situasi tertentu, orang, objek, memori atau emosi yang akan mengingatkan klien terhadap trauma dan menimbulkan ketakutan yang tidak realistis dalam kehidupan klien sehari-hari.

Menurut Ross (1999), terapi ini bisa dilakukan dalam dua pendekatan, yaitu :

  • Exposure in imagination , dimana terapis akan meminta klien untuk mengulangi menceritakan kembali tentang memori peristiwa traumatis sampai pada suatu ketika klien tidak lagi menimbulkan derajat distress yang tinggi.
  • Exposure in reality, terapis akan membantu klien untuk menghadapi situasi pada kondisi aman, tapi yang ingin dihindari oleh klien karena akan memicu timbulnya ketakutan yang kuat. Ketakutan klien secara berangsur-angsur akan berubah jika klien berusaha untuk meninggalkan situasi tersebut dari pada melarikan diri. Jika kegiatan ini dilakukan secara berulang-ulang akan membantu klien menyadari bahwa situasi tersebut tidak berbahaya dan bisa ditanggulangi.

Terapi ini biasanya memakan waktu 60 – 90 menit, dan terapi harus selalu memantau kondisi klien setelah melakukan exposure . Biasanya klien juga diberikan tugas untuk mengulangi kegiatan yang telah dilakukan sebagai homework . (Yulle, 1999)

Cognitive restructuring.

Teknik ini membantu individu mengatasi masalah kenangan yang jelek akibat trauma yang dirasakan. Konsep kognitif pada PTSD menekankan pada pentingnya proses berpikir yang akan mempengaruhi sebagian atau seluruh psikopatologi dari reaksi abnormal dari post-trauma. Sehingga intervensi diperlukan untuk mengidentifikasi pikiran dan kepercayaan yang tidak tepat dan membantu klien dalam memunculkan kembali pikiran dan kepercayaan yang lebih membantu dalam melihat kejadian traumatis, diri sendiri dan lingkungan (Yulle, 1999).

Burns (1988 dalam Wulandari, 2002) mengungkapkan bahwa perasaan individu sering dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan individu mengenai dirinya sendiri. Pikiran individu tersebut belum tentu merupakan suatu pemikiran yang objektif mengenai keadaan yang dialami sebenarnya. Penyimpangan proses kognitif juga disebut dengan distorsi kognitif. Reaksi emosional tidak menyenangkan yang dialami individu dapat digunakan sebagai tanda bahwa apa yang dipikirkan mengenai dirinya sendiri mungkin tidak rasional, untuk selanjutnya individu belajar membangun pikiran yang objektif dan rasional terhadap peristiwa yang dialami.

Distorsi kognitif yang dapat dialami oleh individu terdiri dari penyimpangan pemikiran-pemikiran dapat dipaparkan sebagai berikut (Stuart & Laraia, 2005: Townsend, 2009):

  • Pemikiran ― Segalanya atau Tidak Sama Sekali (All or nothing thinking).
    Pemikiran ini menunjuk pada kecenderungan individu untuk mengevaluasi kualitas pribadi diri sendiri dalam kategori ‗hitam atau putih‘ secara ekstrim. Pemikiran ‗bila saya tidak begini maka saya bukan apa-apa sama sekali‖ merupakan dasar dari perfeksionisme yang menuntut kesempurnaan. Pemikiran ini menyebabkan individu takut terhadap kesalahan atau ketidaksempurnaan apapun, sehingga untuk selanjutnya individu akan memandang dirinya sebagai pribadi yang kalah total, dan individu akan merasa tidak berdaya. Contoh ―Jika suamiku meninggalkanku maka saya juga akan meninggal‖.
  • Terlalu Menggeneralisasi (overgeneralization).
    Individu yang melakukan pemikiran terlalu menggeneralisasi terhadap peristiwa yang dihadapinya maka individu tersebut menyimpulkan bahwa satu hal yang pernah terjadi pada dirinya akan terjadi lagi berulang kali. Karena apa yang pernah terjadi sangat tidak menyenangkan, maka individu selalu senantiasa merasa terganggu dan sedih.

    Contoh pada seorang siswa yang gagal dalam satu ujian berpikir, “Saya tidak akan pernah lulus dalam ujian-ujian yang lain dalam semester ini dan saya akan gagal dan dikeluarkan dari sekolah”.

  • Filter Mental (mental filter).
    Pemikiran ini menunjuk kecenderungan individu untuk mengambil suatu hal negatif dalam situasi tertentu, terus memikirkannya, dan dengan demikian individu tersebut mempersepsikan seluruh situasi sebagai hal yang negatif. Dalam hal ini individu yang bersangkutan tidak menyadari adanya “proses penyaringan”, maka individu lalu menyimpulkan bahwa segalanya selalu negatif. Istilah teknis untuk proses ini ialah “abstraksi selektif”.

    Contoh seorang istri meyakini bahwa suaminya tidak lagi mencintai dirinya karena suaminya sering pulang larut malam, tapi si istri tidak mengabaikan perhatian dari suaminya, hadiah yang diberikan oleh suaminya, dan liburan special yang sudah mereka rencanakan bersama

  • Mendiskualifikasikan yang Positif (disqualifiying the positive).
    Suatu pemikiran yang dilakukan oleh individu yang tidak hanya sekedar mengabaikan pengalaman-pengalaman yang positif, tetapi juga mengubah semua pengalaman yang dialaminya menjadi hal yang negatif.

    Contoh, “Saya tidak akan mengikuti promosi jabatan di kantor karena saya pasti tidak akan mendapatkannya dan saya akan merasa tidak enak”.

  • Loncatan ke Kesimpulan (jumping to conclusions).
    Individu melakukan pemikiran meloncat ke suatu kesimpulan negatif yang tidak didukung oleh fakta dari situasi yang ada. Dua jenis distorsi kognitif ini adalah “membaca pikiran” dan “kesalahan peramal”.
    • Membaca pikiran yaitu individu berasumsi bahwa orang lain sedang memandang rendah dirinya, dan individu tersebut yakin akan hal ini sehingga dirinya sama sekali tidak berminat untuk mengecek kembali kebenarannya.
    • Kesalahan peramal yaitu kecenderungan individu untuk membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi, dan individu tersebut menganggap pemikirannya sebagai suatu fakta walaupun sama sekali tidak realistis.

    Contoh, “Mereka pasti berpikir saya ini orang gemuk yang bodoh”.

  • Pembesaran dan Pengecilan (magnification and minimization).
    Individu memiliki kecenderungan untuk memperbesar atau memperkecil hal-hal yang dialaminya di luar proporsinya. Pembesaran yaitu individu akan melebih- lebihkan kesalahan, ketakutan, atau ketidaksempurnaan dirinya. Pengecilan yaitu individu akan mengecilkan nilai dari kemampuan dirinya sehingga kemampuan yang dimilikinya tampak menjadi kecil dan tidak berarti. Jika individu membesar-besarkan ketidaksempurnaan dirinya serta memperkecil kemampuannya, maka individu akan merasa dirinya rendah dan tidak berarti.

    Contoh seorang membuat masakan hangus, dia mengatakan, “Saya sudah membuat makan malam kita hangus, ini membuktikan bahwa saya benar-benar tidak memiliki kemampuan”.

  • Penalaran Emosional (emotional reasoning).
    Individu menggunakan emosinya sebagai bukti untuk kebenaran yang dikehendakinya. Penalaran emosional akan menyesatkan sebab perasaan individulah yang menjadi cermin pemikiran serta keyakinannya, bukan kondisi yang sebenarnya.

    Contoh seorang wanita muda menyimpulkan, “Teman-temanku tidak lagi menyukaiku karena dia tidak menerima undangan ulang tahun.”

  • Pernyataan ―Harus (should statements).
    Individu mencoba memotivasi diri sendiri dengan mengatakan, “Saya harus melakukan pekerjaan ini”. Pernyataan tersebut menyebabkan individu merasa tertekan, sehingga menjadi tidak termotivasi. Bila individu menunjukkan “pernyataan-harus” kepada orang lain, maka individu akan mudah frustasi ketika mengalami kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya.

    Contoh, “Saya akan gagal dan tidak lulus jika saya tidak mendapatkan nilai A untuk semua ujian saya”.

  • Memberi Cap dan Salah Memberi Cap (labeling and mislabeling).
    Memberi cap pribadi berarti menciptakan gambaran diri yang negatif yang didasarkan pada kesalahan individu. Ini merupakan bentuk ekstrim dari terlalu menggeneralisasi. Pemikiran dibalik distorsi kognitif ini adalah nilai individu terletak pada kesalahan yang dibuatnya, bukan pada kelebihan potensi dirinya. Salah memberi cap berarti menciptakan gambaran negatif didasarkan emosi yang dialami saat itu.

    Contoh, “Saya harus terlihat sempurna pada setiap waktu, jika tidak maka teman-teman tidak akan mengizinkan saya untuk ikut bergabung dengan mereka”.

  • Personalisasi (personalization).
    Individu merasa bertanggung jawab atas peristiwa negatif yang terjadi, walaupun sebenarnya peristiwa bukan merupakan kesalahan dirinya. Jadi, individu memandang dirinya sebagai penyebab dari suatu peristiwa yang negatif, yang dalam kenyataan sebenarnya bukan individu yang harus bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut.

Contoh, “Bos mengatakan bahwa produktivitas perusahaan menurun pada tahun ini, saya tahun sebenarnya dia membicarakan saya”.

Menurut Tull (2008), dalam terapi ini klien diminta untuk menuliskan kejadian traumatis yang dialaminya secara detil, lalu klien harus membaca kembali secara berulang-ulang. Terapis membantu klien untuk menemukan entry point dimana terjadi kesalahan dalam berpikir. Kemudian bersama klien mengumpulkan bukti-bukti akibat dari kesalahan berpikir dan mencari jalan untuk mengatasi kesalahan berpikir tersebut.

Stress inoculation training (SIT)

Terapi ini digunakan untuk mengurangi tanda dan gejala PTSD. Menurut Tull (2008) SIT bertujuan untuk membantu klien meraih kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan yang bersumber dari pengalaman traumatis. Dalam SIT terapis juga membantu klien untuk lebih waspada terhadap hal-hal yang mengingatkan klien terhadap hal-hal yang menimbulkan ketakutan. Sebagai tambahan, klien juga diajarkan beberapa kemampuan strategi koping untuk mengatasi kecemasan seperti muscle relaxation dan deep breathing.

Muscle relaxation dan deep breathing digunakan untuk mengatasi manifestasi klinis seperti hiperventilasi, ketegangan otot, dan jantung berdebar. Sedangkan untuk mengatasi pikiran yang mengganggu dan kecemasan, menurut Epigee (2009) SIT mengajarkan klien untuk memutuskan pola pikirannya dan membayangkan hal- hal yang positif. Pada akhirnya klien diharapkan mampu menerapkan kemampuan strategi koping yang sudah dipelajari pada saat muncul suatu situasi yang menimbulkan stressor sehingga klien bisa mengatasi masalah sebelum masalah tersebut tidak bisa dikendalikan.

Mills, Reiss, dan Dombeck (2008) menjelaskan bahwa SIT memiliki tiga fase dalam pelaksanaannya, yaitu :

  • Fase pertama adalah initial conceptualization , yaitu pada fase ini terapis memberikan pendidikan kepada klien tentang proses terjadinya stress, dan bagaimana klien memahami bagaimana hubungan antara aspek stressor yang dialami dan reaksi yang timbul akibat stress, dimana reaksi adalah sesuatu yang biasa diubah, sehingga klien bisa menerapkan koping yang tepat sesuai untuk masalah yang dihadapi.
  • Fase kedua adalah skill aquisation and rehearsal, yaitu klien diajarkan tentang kemampuan yang penting, memenuhi kebutuhan klien dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh klien. Berbagai macam teknik pengaturan emosi, penilaian kognitif, penyelesaian masalah, relaksasi, kemampuan komunikasi dan kemampuan sosialisasi yang akan memenuhi kebutuhan klien.
  • Fase ketiga adalah application and follow through , pada fase ini terapis memberikan kesempatan pada klien untuk mempraktekkan semua yang sudah dipelajari. Klien akan didorong untuk mempraktekkan berbagai kemampuan meliputi latihan visualisasi, modeling dan belajar mandiri, role play untuk situasi yang menimbulkan ketakutan dan pengulangan perilaku koping sehingga klien pada akhirnya mampu menggunakan kemampuan yang diajarkan secara otomatis.

Sesi dalam Terapi Perilaku Kognitif

Tiap penelitian yang dilakukan untuk mengukur apakah CBT terbukti efektif untuk mengatasi PTSD dilaksanakan dengan berbagai sesi, tergantung dari kebutuhan dari peneliti itu sendiri. Menurut Scheeringa, dkk (2007), CBT yang dilakukan secara individual sebanyak 12 sesi, dimana masing-masing sesi berlangsung 60-90 menit yang dilaksanakan satu atau dua kali setiap minggu. Sesi 1-4 menjelaskan tentang tanda dan gejala PTSD, bagaimana menilai perasaan dan mengidentifikasi tanda tersebut pada diri sendiri, dan mempelajari beberapa teknik relaksasi. Pada sesi 5 adalah sesi bercerita, dimana individu menceritakan pengalamannya terhadap pengalaman traumatis yang dialaminya. Sesi 6-10 menetapkan resiko yang akan ditemui di lingkungan kerja atau diluar lingkungan kerja. Sesi 11 berfokus pada pencegahan kekambuhan dan sesi 12 adalah sesi evaluasi dan akhir dari terapi.

Pada setiap sesi akan dilakukan intervensi yang berbeda-beda, seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel Outline sesi-sesi pada CBT individu

Sesi Intervensi
1 Review diagnosa, tanda dan gejala PTSD
Psikoedukasi tentang PTSD
Latihan Progressive muscle relaxation (PMR)
2 Membaca (dengan keras) deskripsi pengalaman yang dituliskan oleh individu
Diskusi tentang perilaku menghindar
PMR
3 Coping self-statements
Menyusun tingkatan perilaku menghindar— exposure instruction (in vivo and imaginal)
Berkumpul dengan orang yang terdekat
PMR (versi menggunakan 8 otot)
4 Penilaian kognitif
Diskusi tentang tingkatan perilaku menghindar— exposure continued
PMR (versi menggunakan 4 otot)
5 Diskusi tentang tingkatan perilaku menghindar — exposure continued
6 Diskusi tentang tingkatan perilaku menghindar — exposure continued
Cue-controlled relaxation
7-9 Membahas masalah eksistensial (terutama yang menyangkut kematian)
Intervensi untuk mengatasi menarik diri dan isolasi sosial
Intervensi untuk mengontrol marah
Diskusi tentang tingkatan perilaku menghindar— exposure continued
10 Evaluasi semua prosedur yang dilakukan

Sumber : Beck & Coffeey, 2005)

Sumber lain menyebutkan bahwa CBT dilakukan sebanyak 4 sesi, yang dilakukan selama 2 jam dalam satu minggu (Lubit, 2008; Shoostary, Panaghi & Moghadam, 2008).

  • Pada sesi 1 adalah psychological debriefing, pada sesi ini akan membahas tujuan dari terapi, pengalaman individu terkait kejadian traumatis, pikiran tentang kejadian, serta reaksi yang timbul akibat pengalaman traumatis tersebut.
  • Pada sesi 2 akan membahas tentang intrusion. Sesi 2 ini akan membahas tentang stress akibat pengalaman traumatik, membuat daftar tentang kejadian traumatis dan ingatan traumatis, menetapkan tempat aman dalam imanjinasi individu, teknik imanjinasi, teknik kinestetik, EMDR, rehearsal relief, dan tugas rumah.
  • Pada sesi 3 adalah avoidance dan hyperarousal. Untuk mengatasi avoidance akan dilakukan kegiatan seperti diskusi tentang perilaku avoidance , menilai ingatan traumatis, imanginal exposure , menggambar, bercerita dan menulis. Untuk mengatasi hyperarousal , tindakan yang dilakukan adalah hubungan antara perasaan takut dengan reaksi tubuh, relaksasi otot, napas dalam, pernyataan positif, pengaturan tidur yang baik dan terakhir ada tugas di rumah.
  • Pada sesi 4 adalah segala hal tentang komponen kognitif, yaitu menormalkan kembali reaksi dan ingatan terhadap trauma.

Parsons (2009) menyebutkan bahwa CBT berlangsung selama 12 sesi. Menurut Parsons (2009) CBT untuk PTSD terdiri dari empat tahapan, yaitu pre-contemplative, contemplative, action dan relaps . Keempat tahapan tersebut akan ditampilkan secara terstruktur pada jumlah sesi yang ada di CBT yaitu sebanyak 12 sesi. Setiap sesi dilakukan seminggu sekali dan lama terapi diperkirakan 1 – 3 bulan, maksimal 12 bulan, kemudian 3-6 bulan adalah follow-up , dan 6-12 bulan adalah recovery untuk membudidayakan kemampuan dan teknik pembelajaran. Walaupun secara umum CBT sudah memiliki sesi-sesi yang terstruktur, tapi pada pelaksanaannya bisa saja berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan individu yang membutuhkannya.

Pelaksanaan CBT yang merupakan modifikasi dari beberapa penelitian sebelumnya bahwa CBT bisa dilakukan sebanyak 4 sesi (Susanti, Wardani, Khotimah, Natalia & Nurillah, 2009). Empat sesi yang dilakukan meliputi sesi 1 yaitu pengkajian pikiran negatif, sesi 2 adalah sesi terapi kognitif, sesi 3 adalah terapi perilaku dan sesi 4 merupakan evaluasi dari terapi kognitif dan terapi perilaku.

Sumber dari FIK-UI (2009), menyebutkan bahwa CBT dapat dilaksanakan dalam 5 sesi.

  • Sesi 1 adalah pengkajian dan latihan untuk mengatasi pikiran negatif pada diri sendiri.
  • Sesi 2 akan mendiskusikan tentang terapi kognitif, dimana pada sesi ini akan mengatasi semua hal yang terkait dengan kognitif (pikiran) negatif individu.
  • Sesi 3 adalah terapi perilaku, akan mengubah perilaku negative menjadi perilaku positif.
  • Sesi 4 adalah evaluasi terapi kognitif dan terapi perilaku,
  • Sesi 5 adalah pencegahan kekambuhan.

Kelima sesi ini merupakan kompilasi dari berbagai sumber-sumber tentang CBT. Kelima sesi ini mencakup semua kegiatan yang terdapat dari berbagai penelitian yang berkaitan dengan CBT, dimana ada sesi yang akan membahas tentang pikiran otomatis negatif yang timbul, dan ada juga sesi untuk melatih perilaku positif untuk mengubah perilaku negatif