Bagaimana prinsip usaha ciputra yang dapat kita ambil pelajaran ? – People

Barangkali ada yang bertanya, apa yang dapat digali dari seorang Ciputra untuk dibagikan kepada orang-orang yang masih hijau dalam dunia bisnis?

Bisakah mereka yang digolongkan sebagai entrepreneur junior pun mungkin belum patut, belajar langsung dari Ciputra, bukankah Ciputra telah menjadi seorang konglomerat papan atas, taipan, supra-entrepreneur yang mungkin telah berada ‘dilangit ke tujuh’ dan hanya cocok bicara tentang proyek triliunan rupiah?

Pertanyaan-pertanyaan itu sangat wajar di tengah banyaknya persepsi dan pencitraan yang disematkan kepada tokoh sekaliber Ciputra Namun, yang sering dilupakan orang adalah perjalanan Ciputra menjadi pengusaha papan atas di Tanah Air bukanlah sebuah proses instan apalagi melalui jalan pintas. Sama seperti kebanyakan pebisnis pemula dimanapun di dunia ini titik berangkat Ciputra dalam berbisnis tidak jauh berbeda dengan titik berangkat para anak-anak muda dan pebisnis pemula. Tantangan yang dihadapi Ciputra dari dulu sampai sekarang sangat mungkin juga akan berulang, baik dalam versi serupa maupun dalam berbagai bentuk lain, menghampiri anak-anak muda yang merintis bisnis atau merencanakan berbisnis.

Pertanyaan tentang bagaimana manfaat pengalaman seorang Ciputra dibagikan kepada para anak- anak muda yang ingin jadi entrepreneur juga akan makin terjawab bila kita sempat membaca buku karya George H.Ross bersama Andrew James McLean, yang berjudul Trump Strategies for Real Estate.

Kita mengenal Donald Trump, multimiliarder di bisnis properti negeriPaman Sam, dan belakangan ini lebih populer lagi lewat acara televisinya, Apprentice . Sudah dapat ditebak jika buku itu bercerita tentang strategi Trump dalam berinvestasi dan mengembangkan bisnis real estate. Yang menarik, ternyata Ross dan McLean mempersembahkan buku ini bukan bagi para pengusaha besar sekelas Trump , melainkan kepada investor-investor kecil yang ingin belajar meraih sukses dari apa yang dilakukan oleh para pengusaha besar.

Ross, yang sudah menjadi penasihat Trump selama puluhan tahun, percaya bahwa sesungguhnya bukan skala bisnis yang jadi soal penting, melainkan bagaimana strategi dalam berinvestasi dan mengembangkan bisnis. Itulah sebabnya Ross dan McLean mengatakan bahwa prinsip berbisnis yang sukses di bisnis berskala raksasa juga berlaku di bisnis-bisnis berskala kecil lainnya.

Bagi Ciputra, sedikitnya ada tiga ciri utama seorang entrepreneur, yaitu :

  • Pertama, seorang entrepreneur mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau tidak diperhitungkan oleh orang lain. Ia melihat kemungkinan dan memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang memicu semangatnya untuk bertindak.

  • Kedua, seorang entrepreneur adalah orang yang bertindak untuk melakukan inovasi, mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan seperti yang diinginkan. Tindakanlah yang membuat entrepreneur menjadi inovator.

Ketiga, seorang entrepreneur adalah pengambil resiko, baik resiko bersifat finansial (rugi), maupun resiko yang bersifat mental (dianggap gagal).

Dengan tiga ciri pokok tersebut, seorang entrepreneur sejati seperti seorang “perintis kawasan baru”, “penjelajah rimba raya”, atau juga “pendaki gunung” yang selalu mencari puncak-puncak taklukkan baru. Mereka bermimpi, atau maju bergerak menuju tantangan dan tidak gentar memikul resiko. Ringkasnya entrepreneur sejati berani rugi, berani malu dan juga berani terkenal.

Bagi Ciputra, entrepreneur yang berkemungkinan sukses biasanya adalah seorang yang tidak cepat puas, yang ingin mengetahui sesuatu lebih banyak lagi sampai ia dapat memahami dan mewujudkan sesuatu dari yang baru diketahuinya itu. Ciputra adalah orang yang tak pernah berhenti bekerja dan belajar demi menciptakan sesuatu yang lebih bernilai. Ia bahkan tidak malu belajar dan merasa bangga serta berterima kasih jika ada banyak orang yang mengajarkan sesuatu yang baru kepadanya.

Bagaimana jika orang merasa tak berbakat, tetapi ingin memiliki bisnis sendiri?

Pertanyaan ini bersifat paradok. Sebab, bakat seseorang umumnya menumbuhkan minatnya terhadap sesuatu. Seperti bakat Pak Ciputra sebagai entrepreneur dalam industri properti membuatnya amat berminat, melihat, mendengar, bermimpi, dan memperbincangkan hal-hal yang bertalian dengan dunia properti. Jadi, jika seseorang berminat untuk memiliki usaha sendiri, maka minatnya itu sendiri harus dimengerti sebagai bakat dan potensinya sehingga, tak usah pusing soal apakah kita berbakat atau tidak. Sepanjang ada hasrat besar untuk menjadi entrepreneur, anggap saja itu merupakan petunjuk kita bahwa kita berbakat. Lalu cobalah membangun visi, mencari menginovasi dan menciptakan suatu produk, dan belajar mengambil resiko tahap demi tahap, bulatkan tekad untuk menjadi pengusaha, menjadi pebisnis, menjadi entrepreneur.

Perlukah pendidikan formal bagi seorang entrepreneur?

Sebagai manusia pembelajar, entrepreneur belajar dari semua hal, bahkan dari tempat-tempat yang banyak orang mungkin tidak membayangkannya sabagai tempat belajar. Ciputra belajar dari bawahannya, Ciputra belajar dari persoalan yang dihadapinya, bahkan Ciputra belajar dari semua orang yang pernah berhubungan dengannya. Pengakuan semacam ini tampaknya memang sudah umum kita dengar dari banyak entrepreneur sukses. Karena demikian besarnya penekanan pentingnya belajar dari segala hal, muncullah anggapan bahwa ternyata belajar menjadi entrepreneur tidak perlu berbekal pendidikan formal. Sekolah formal sebagai tempat belajar yang saangat mendasar dianggap tidak penting lagi. Apalagi aneka buku yang sering mempertanyakan arti pentingnya sekolah. Seolah-olah karena secara spesifik sekolah formal tidak mengajarkan bagaimana cara berbisnis, maka untuk menjadi entrepreneur pun dianggap tidak perlu dibekali dengan pendidikan.

Pengalaman dan perjalanan hidup Ciputra menunjukkan bahwa pendidikan dan ilmu menjadikan orang pintar. Entrepreneur yang berbekal pendidikan dan pengalaman juga semakin lama akan semakin pintar. Tetapi diatas kepintaran, Ciputra percaya ada kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaanlah seorang entrepreneur dapat menghindarkan diri dari kesalahan yang tidak perlu. Dalam merintis dan mengelola bisnis, seorang entrepreneur sering kali dihadapkan pada tantangan untuk hanya mendengarkan dirinya sendiri dan tidak mau mendengarkan nasihat dari lingkungannya. Orang-orang seperti ini bagi Ciputra digolongkan sebagai orang pintar tetapi kurang bijaksana. Orang pintar yang bijaksana di mata Ciputra adalah orang yang tidak menganggap dirinya diatas orang lain meskipun kepintarannya pada kenyataannya memang demikian. Seorang entrepreneur yang bijaksana di mata Ciputra adalah pemimpin yang menyadari bahwa dirinya idak mengetahui segala hal.

Entrepreneur yang paling berbakat pun tetap manusia biasa, dan anda tidak tidak harus menjadi orang jenius dalam semua bidang untuk menjadi entrepreneur sukses. Setahu saya. Li Kha Sing juga bukan orang jenius disegala bidang. Namun ia berhasil menjadi entrepreneur sukses, baik di Negerinya maupun di mancanegara. Kita hanya perlu jenius dalam bidang yang sesuai dengan bakat pilihan hidup kita, dan untuk itu kita harus terus belajar.

Ciputra telah mempraktikkannya. Lebih dari itu, sepanjang 40 tahun lebih perjalanan hidupnya sebagai entrepreneur, Ciputra tak pernah jemu untuk berhenti sejenak, melihat dan mendengarkan, entah itu dari para bawahan, kolega, dan terutama pelanggan-pelanggan perusahaannya. Tidak perlu dipertanyakan bila salah satu nasihat yang ingin disampaikannya kepada para anak muda yang mempersiapkan diri atau perjalanan menjadi entrepreneur, adalah selalu bersikap bijaksana.

Pintar itu penting, tetapi sediakan waktu untuk berhenti sejenak, melihat dan mendengar apa yang dikatakan orang lain.

Menggali Ide-Ide Bisnis


Ir. Ciputra memang dikenal sebagai orang yang tidak pernah kehabisan ide bisnis. Antonius Tanan, salah seorang eksekutif profesional di Grup Ciputra, ketika menulis tentang perjalana bisnis Ciputra dalam buku Menjadi Manusia Unggul yang Disertai Tuhan (2004), menyebut bahwa inovasi adalah Trade Mark Ciputra. “Ia adalah seorang yang tidak pernah lelah untuk mencipta dan berinovasi bahkan sampai pada usia 75 tahun seperti sekarang. Ide-ide baru yang unik bahkan provokatif tidak sedikit muncul darinya bila anda berbincang dengannya,” tulis Antonius Tanan.6 Tidak mudah membayangkan bagaimana seseorang sanggup untuk terus bertekun di sebuah bisnis yang selama empat dekade dan tak pernah bosan menggulirkan ide-ide baru. Tetapi Ciputra memang tak pernah kehabisan ide. Ia bahkan kerap menjadi provokator bagi jajaran manajemen di Grup Ciputra manupun di kelompok bisnis lain yang lebih dulu ia dirikan, untuk menggali dan memunculkan ide-ide baru.

Terkadang kami merasa jenuh dalam memenuhi ekspektasi Pak Ciputra. Tetapi itu semua sangat berarti bagi kami. Itu membuat kami tangguh dan teruji,” kata Budi Karya Sumadi, CEO PT.Pembangunan Jaya ancol, eksekutif yang pernah mendapatkan gemblengan Ciputra.

Walaupun penilaian orang sedemikian rupa terhadap Pak Ciputra, ia selalu membantah bila dikatakan seorang jenius. Menurut dia, modal paling mendasar yang ia punyai ketika memulai bisnis adalah semangat dan kepercayaan diri. Selebihnya adalah keyakinan bahwa bekerja keras dan upaya yang sungguh-sungguh akan membuahkan hasil.

Bagaiman Ciputra menemukan ide-ide bisnis? Bagaimana pula ia mengelola dan mengembangkan ide-ide tersebut? Bagaimana ia membangun keyakinan tentang adanya peluang pada setiap langkah bisnisnya? Apakah semua itu datang begitu saja dalam mimpi-mimpinya itu ketika berhadapan dengan dunia nyata?

Bagi entrepreneur yang tidak mempunyai kepercayaan diri yang besar seperti Pak Ci; yang merasa kurang mampu mendapatkan ide-ide bisnis; yang merasa terbentur dan takut mencoba menerjuni bisnis dengan alasan tak punya ide atau konsep bisnis untuk dijalankan; yang menganggap dunia bisnis telah penuh sesak dan tak ada kesempatan lagi bagi seorang pemula untuk menggarapnya.

Ciputra selalu punya mimpi. Mimpi itu terus menghuni benaknya ketika bangun, tidur dan terjaga lagi. Dalam rinciannya, mimpi-mimpi itu tidak selalu persis. Tetapi garis besarnya sangat jelas. Ia ingin selalu menciptakan aneka ragam bangunan yang indah dipandang, kuat, kokoh, disenangi siapa saja yang berada di dalamnya, bernilai guna bagi sebanyak mungkin orang. Mimpi-mimpi semacam itu menjadi bagian dari dirinya sejak memutuskan terjun sebagai entrepreneur selepas menyelesaikan studinya di Jurusan Arsitektur ITB. Hingga kini pun, ketika ia telah ditempatkan sebagai salah seorang pelopor bisnis properti di Tanah Air, Ciputra tetap mengembangkan mimpi-mimpinya.

Mimpi-mimpi Pak Ciputra terkadang luar biasa, bahkan kerap tak terjangkau oleh pikirannya pada saat ia memimpikannya. Namun ia sudah sangat terlatih untuk mendaki gunung-gunung impiannya dan tidak mau berhenti jika belum mencapai puncak pendakiannya. Kalaupun upaya merealisasikan hal itu akan memerlukan waktu lima, sepuluh atau bahkan dua puluh tahun, ia akan terus mengerjakannya dengan semangat.

Segala pikirannya terpusat pada fokus tunggal. Pak Ci selalu mengajarkan bahwa,”Bagi seorang pekerja keras, meskipun itu di langit, harus tetap kita kejar. Andai tidak terpenuhi, kita sedang dalam proses ke sana.”

Fokus tunggal adalah merealisasikan apa yang telah ia tetapkan untuk direalisasikan.

Semua visi atau mimpi besar Ciputra selalu terkait dengan bidang usaha yang sekaligus bidang pengabdiannya, yakni sebagai pembangun dan pengembang kota-kota baru. Ia melihat dunia disekitarnya dalam persfektif itu. Ia menempatkan dirinya untuk tenggelam dalam dunia pembangunan kota-kota baru. Bagi Ciputra tak ada hal lain yang lebih menarik dibandingkan soal ide dan gagasan yang mengarah pada proses pembangunan kota baru. Ia merasa bangga dengan rancangan kota-kota baru yang pernah ia kerjakan. Sebagai contoh adalah master plan proyek Ciputra Hanoi International City dengan luas 315 Ha. Ciputra mengatakan bahwa itulah proyek real estate terindah di Hanoi. Namun bila ditanya manakah proyek yang terbaik yang ia lakukan maka jawabannya sangat gamblang: “My next Project…” tidak heran bila ia sampai sekarang terus bermimpi membangun kota-kota baru.

Begitulah Ciputra mengajarkan kepada setiap entrepreneur tentang pentingnya memilih bidang usaha yang bisa membuat kita menemukan mimpi-mimpi terbaik. Bidang usaha yang cocok dengan minat, pendidikan, bakat-bakat terbaik kita. Bidang usaha yang menumbuhkan mimpi-mimpi, dimana mimpi-mimpi itu justru sekaligus memasok energi dan membuat kita bersemangat untuk berusaha, terutama jika sejumlah tantangan menghambat langkah ke depan. Bidang usaha yang benar-benar sesuai dengan anatomi kejiwaan kita, sehingga tak pernah ragu untuk tetap fokus berusaha, sekalipun itu memerlukan waktu lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun. Bidang usaha yang membuat kita dengan senang hati dan penuh suka cita rela bekerja keras, dan bukannya mencoba mencari jalan pintas yang melecehkan harkat dan martabat kemanusian kita. Bidang usaha yang membuat kita tumbuh menjadi manusia yang lebih baik, dan menjadi entrepreneur sejati yang pantas dibanggakan oleh masyarakat dan Bangsa Indonesia.

Sesungguhnya pengalaman para entrepreneur menunjukkan ide bisnis dapat ditemukan di mana saja. Ide bisnis dapat muncul dalam perjalanan ketika anda membaca sebuah harian sore di masa liburan. Barangkali pula dari perbincangan dengan seorang rekan yang membutuhkan sesuatu dari dia dan lantas anda menangkapnya sebagai peluang bisnis. Bahkan apa yang dilakukan pesaing pun sebenarnya dapat menjadi sebuah ide bisnis yang baik. Mien R Uno seorang kawan baik Ir. Ciputra selalu teringat kebiasaan Pak Ci untuk membawa tape recorder ke mana-mana untuk merekam ide-ide yang melintas di kepalanya.

Menggali dan mengumpulkan ide bisnis yang didorong oleh mimpi sang entrepreneur, menurut Rodney Overton (2002) adalah salah satu tahap paling awal dari suatu bisnis.

Ada berbagai cara orang mengumpulkannya. Namun Overton mengatakan walaupun ide bisnis ada yang muncul secara tiba-tiba, pencarian ide-ide bisnis sebaiknya dilakukan secara sistematis.

Overton mengatakan, pada dasarnya ada empat sumber ide-ide bisnis:

  • Inspirasi
  • Peristiwa kebetulan (serendipity)
  • Konsumen
  • Tehnik-tehnik formal

Kategori di atas tentu saja bukan sebuah pengkotak-kotakan yang kaku, melainkan suatu alat penjelas untuk menggambarkan bagaimana entrepreneur menggali ide-ide bisnis. Pak Ci menggali ide-ide bisnis dari apa dan siapa saja yang mungkin ia temukan. Apakah itu sebuah perjalanan bisnis ke luar negeri, seperti ketika di Dubai dan berbagai negara lain di Eropa beberapa waktu lalu ataukah kunjungan ke sebuah proyek di pelosok negeri ini, itu semua sering kali mendatangkan inspirasi baginya untuk mendapatkan ide-ide bisnis. Mengamati apa yang dilakukan oleh kompetitor juga memicu ide-ide bisnis bagi Pak Ci.

Pak Ci selalu mengantongi sebuah buku catatan kecil, tempat dia mencatat hal-hal menarik yang ia temukan, disamping untuk menuliskan apa saja yang ia harus kerjakan hari itu. Ide-ide bisnis yang ia catat itu, ia baca kembali manakala ia punya waktu yang cukup. Ide itu ia bicarakan dengan para stafnya untuk menguji kemungkinan untuk direalisasikan. Sama seperti Pak Ci, seorang calon entrepreneur harus membiasakan diri mencatat ide-ide bisnis lebih baik ketimbang tidak mempunyainya sebab ia akan sangat berguna manakala anda membutuhkannya.

Pelajarilah hal-hal terbaik, dan tirulah itu,” kata Pak Ci, dalam strategi perusahaan, cara ini kerap disebut sebagai metode benchmarking .

Meniru adalah proses inovatif jika yang kita lakukan adalah meniru praktik-prakti terbaik, mengambil puncak-puncak pencapaian itu dan diramunya menjadi sesuatu yang lebih baik dan lebih bernilai sesuai dengan konteks usaha kita sendiri.

Benchmarking adalah suatu langkah untuk mencapai hasil terbaik dengan menetapkan suatu batu penjuru yang akan diacu, ditiru bahkan bila memungkinkan, dilampaui. Sang batu penjuru itu pada umumnya adalah praktik-praktik terbaik yang sudah teruji membuat suatu perusahaan mencapai hasil terbaik pula di bidangnya.

Bagi Pak Ci, dalam mengawali langkah menjadi entrepreneur, seseorang harus mengarahkan pikirannya kepada praktik-praktik terbaikyang pernah ada di bidang yang ingin di geluti sang calon entrepreneur. Bagi Pak Ci, meniru adalah bagian dari pekerjaan seorang entrepreneur. Hal itu makin ia yakini setelah ia membaca buku karya Malcolm Gladwell (2001) dengan judul Tipping Point, How Little Things Can Make A Big Difference. Dalam buku yang menjadi international best seller itu ia belajar bahwa ada hal-hal kecil yang bisa berdampak lebih besar salah satunya bagi Ciputra adalah kegiatan “meniru” secara kreatif.

Ciputra juga belajar tentang hal ini dari pebisnis sukses lainnya yakni, Sam Walton sebagai pemilik dan pendiri Wal Mart, jaringan supermarket terbesar sekarang di Amerika Serikat. Sebagai entrepreneur Sam mempelajari dan meniru habis-habisan apa yang dilakukan oleh pesaingnya, K Mart, yang menjadi pemimpin pasar kala itu.

Sam Walton meniru semua yang dilakukan K Mart dari bagaiman mendesain outlet , menetapkan harga, melayani pelanggan, bahkan sampai pada bagaimana barang-barang K Mart ditata. K Mart kala itu dianggap yang terhebat dan Sam berprinsip semua yang terbaik itu harus ditirunya. Apa hasilnya? Sekarang Wal Mart-lah yang paling besar, mengalahkan K Mart yang dulunya ditiru.

Dari cerita Sam Walton itu, Pak Ci mengambil benang merah filosofinya:

jangan malu meniru, tetapi tirulah yang terbaik untuk menjadikan anda lebih baik lagi. Itu sangat dia diyakini.

Proses inovasi Ciputra mungkin lebih jelas dipahami dengan meminjam gagasan Paul Geroski dan Costas Markides. Beberapa waktu yang lalu, dua ilmuawan dari London Business Scholl ini meluncurkan sebuah studi di Jurnal Strategy Business dengan judul Colonist and Consolidator . Disini mereka menyitir ada dua pengertian inovasi.

  • Inovasi pertama adalah inovasi dalam bentuk invensi atau temuan baru, ini dapat berarti sebuah penemuan yang menciptakan produk dan jasa yang sebelumnya tidak pernah ada atau dapat juga temuan terhadap suatu tehnologi untuk menciptakan atau memproses sesuatu.

  • Inovasi kedua, adalah proses merealisasikan sebuah temuan baru menjadi produk komersial yang dapat diterima pasar. Peran entrepreneur sebagai inovator tampaknya lebih dominan pada jenis inovasi yang kedua.

Sedangkan pada inovasi jenis pertama para ilmuawanlah yang menjadi penentunya. Inovasi jenis kedua yang terjadi sesungguhnya adalah proses belajar, baik oleh entrepreneur sebagai produsen maupun para konsumen sebagai sumber ide bisnis.

Selanjutnya, perkembangan pasar sebagai pendorong inovasi jenis kedua, berlangsung dua tahap. Tahap pertama adalah fase eksplorasi yang dipenuhi ketidak pastian di mana muncul perusahaan-perusahaan pioner yang dalam istilah Geroski dan Markides disebut perusahaan kolonis, perusahaan menjelajah ide-ide dan temuan. Sedangkan fase kedua adalah ketika perusahaan pioner saling bersaing dengan model bisnis masing-masing sambil belajar dari bertemunya permintaan dan penawaran di pasar yang sedang tumbuh. Pada tahap ini, perusahaan yang menjadi pemenang adalah perusahaan yang bertipe konsolidator, perusahaan yang mampu mengkonsolidasikan prakti-praktik terbaik untuk menghasilkan produk yang secara komersial terdepan memasuki pasar.

Studi Geroski dan Markides ini dengan sendirinya membenarkan pendapat Ciputra bahwa inovasi juga adalah proses meniru dan meramu berbagai praktik-praktik terbaik untuk menghasilkan produk atau jasa yang baru yang lebih baik dan bernilai dari yang ditirunya.

Memulai Bisnis Baru


Entrepreneurship adalah peoses melakukan sesuatu yang baru (kreatif) dan sesuatu yang berbeda (inovatif) dengan tujuan menciptakan kesejahteraan untuk individu dan memberi nilai tambah bagi masyarakat. Raymond W.Y.Kao (1995)

Sosok Ciputra sangatlah cocok dengan definisi Kao tersebut. Sebagaimana telah kita pelajari sebelumnya, Ciputra melakukan baik hal yang kreatif (baru), maupun hal yang inovatif (berbeda), sehingga karya-karyanya diterima dan dinikmati oleh masyarakat luas.

Sejumlah ahli manajemen mengatakan bahwa manusia dewasa rata-rata membuat 300 keputusan per hari, dari yang sepele sampai yang penting dan menentukan hidup mereka. Artinya, setiap tahun orang dewasa, anggap saja usia 18 tahun ke atas membuat sekitar 109.500 keputusan dalam hidupnya. Jika asumsi diatas diterapkan dalam kehidupan Ciputra yang telah melewati usia 74 tahun, maka 6.132.000 keputusan. Jumlah keputusan yang luar biasa banyak dan karenanya tentu sulit diingat. Namun pada kenyataannya, Ciputra menganggap hanya ada sepuluh keputusan yang sangat menentukan dan bersifat historis sehingga dikenal orang seperti sekarang ini. Hanya ada sepuluh keputusan fundamental yang membuatnya disebut sebagai pelopor dan inovator dalam industri properti, juga pengusaha yang tahan banting lintas generasi di panggung bisnis Tanah Air.

Berikut adalah 10 keputusan besar Ciputra yang menentukan perjalanan hidupnya,

  1. Mengejar ilmu pengetahuan sampai ke Pulau Jawa. Keputusan ini dibuat ketika ia masih menjelang remaja, berusia 12 tahun;

  2. Menikahi Dian Sumeler dan sebagai konsekuensinya Ciputra harus bekerja sambil kuliah untuk menopang keluarga. Mereka menikah di Bandung tahun 1954, saat Ciputra berusia 23 tahun dan masih kuliah di ITB. Dari pernikahan ini lahirlah empat orang anak, yakni Rina Ciputra, Junita Ciputra, Candra Ciputra, dan Cakra Ciputra. Inilah cikal-bakal pendiri Grup Ciputra;

  3. Mendirikan usaha biro konsultan Daja Cipta yang kemudian menjadi PT Perentjana Djaja. Ini dilakukan Ciputra ketika masih kuliah di tingkat tiga ITB, bersama dua orang temannya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan. Ia mendirikan usaha ini dengan meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai karyawan dan keputusan ini sekaligus mempersiapkan wadah bisnis masa depan. Jadi, dengan dorongan untuk bertahan hidup, ia memulai suatu usaha yang ternyata kelak membawanya ke kancah bisnis dalam skala yang luar biasa.

  4. Pada tahun 1960, Ciputra memutuskan menjadi pengembang ( developer ) dan menyerahkan pengelolaan perusahaan konsultan perencanaan kepada kedua orang rekannya. Sebagai arsitek muda berusia 31 tahun dan baru tamat, ia berhasil meyakinkan Soemarno Sosroatmodjo, gubernur Jakarta kala itu, untuk mendirikan perusahaan patungan dalam bidang properti antara dirinya dengan pihak lain, termasuk Hasyim Ning (Dasaat), yaitu PT Pembangunan Jaya. Maka dibangunlah Proyek Pasar senen. Lima tahun kemudian ia berhasil meyakinkan Gubernur Ali Sadikin untuk mendirikan PT Pembangunan Jaya Ancol yang merupakan usaha patungan antara PT Pembangunan Jaya dengan Pemda DKI;

  5. Ketika Ciputra bersama-sama dengan beberapa temannya di PT Perendjana Djaja; Budi Brasali, dan Ismail Sofyan, ditambah teman lainnya, Sukirman dan Secakusuma, mendirikan Grup Metropolitan Development. Perusahaan ini menjadi salah satu grup bisnis properti terkemuka yang sukses membangun Wisma Metropolitan, Wisma WTC, Hotel Horison, Metropolitan Mal, Pondok Indah, Puri Indah, dan lain- lain. Keputusan ini meningkatkan skala bisnis dengan kerja sama yang diperluas, sampai sekarang, Ciputra masih menjadi Presiden Komisaris di kelompok usaha ini;

  6. Pada usia 50 tahun (1980) ia meendirikan Grup Bisnis Ciputra, sebuah grup bisnis yang ia dirikan bersama istri dan empat orang anaknya yang baru tamat dari luar negeri. Melalui grup ini, pengembangan bisnis terfokus pada bidang properti dan melakukan pengembangan pasar ke kota-kota besar di luar Jawa.;

  7. Mengembangkan usaha ke luar negeri. Ini di mulai pada pertengahan tahun 1990-an di Vietnam;

  8. Keputusan untuk memercayai campur tangan Tuhan terhadap masa depan bisnisnya;

  9. Mengembangkan pelayanan sosial dalam bidang pendidikan dengan mendirikan sejumlah sekolah dari tingkat dasar hingga universitas;

  10. Memilih strategi untuk fokus pada bisnis properti dan mengarahkan Grup Ciputra menjadi multi national corporation (MNC). Strategi konglomerasi yang aneka ragam bidang bisnis digantikan dengan fokus hanya pada bisnis properti, tetapi meluas ke berbagai negara. Pengembangan pasar properti dilakukan ke mancanegara, meski lokasi kantor pusat operasi tetap di Indonesia. Grup Ciputra sudah lebih dari 10 tahun membuka usaha di Vietnam dan tahun 2004 lalu mulai membuka bisnis di India juga. Dalam waktu dekat, Kamboja, Cina, dan Timur Tengah menjadi lahan pengembangan usaha berikutnya. Strategi yang akan ditempuh adalah bekerja sama dengan pemilik tanah, memanfaatkan kekuatan brand Ciputra, sehingga perusahaan mendapatkan fee dari brand value dan technical expertise.

Sepuluh keputusan bersejarah di atas menjadi pijakan yang kokoh bagi kiprah Ciputra selanjutnya. Dan tentu saja semua tidak berlangsung mulus begitu saja. Ada banyak masalah dan tantangan yang harus dilewati agar kelompok bisnis yang didirikannya tetap langgeng.

Sampai tahun 2005, ia telah membangun 22 kota baru di dalam dan luar negeri, dengan luas puluhan ribu hektar. Sejauh ini tidak mudah menemukan orang yang pernah membangun lebih banyak kota dibandingkan Ciputra yang bahkan masih terus ingin membangun kota-kota berikutnya.

Ciputra sebagai entrepreneur pencipta bisnis-bisnis baru tentu akan membawa kita kepada pertanyaan, jika seorang Ciputra dapat mencapai semua itu, dari manakah seorang caoln entrepreneur yang ingin seperti dia dapat memulainya? Maka, pengalaman Ciputra memberikan jawaban yang sederhana: mulailah dari apa yang ada pada diri kita; mulailah dari apa yang bisa kita lakukan. Coba sadari pengetahuan apa yang kita miliki, atau keahlian apa yang sesungguhnya bisa dijadikan pijakan awal, dan adakah kawan-kawan yang bisa diajak ikut berbisnis?

Ciputra mempunyai cara sendiri menggambarkan Dream Big, Start Small. Katanya,

“Membangun sebuah perusahaan adalah bagaikan membangun sebuah air terjun artifisial. Satu persatu bungkah batu-batu besar kita letakkan. Dengan cermat kita atur dan kita seimbangkan peletakkannya, sehingga kekuatan alam kemudian menciptakan alur air yang estetis menuju ke satu titik perlimbahan.

Ketika memutuskan untuk meninggalkan perusahaan konsultannya dan memasuki dunia baru sebagai pengembang, Ciputra menyedari betul bahwa yang ada pada dirinya adalah keahliannya sebagai arsitek dan mimpi- mimpinya yang siap direalisasikan. Namun di sisi lain, Ciputra juga menyadari bahwa dunia properti yang dia masuki harus didukung oleh dua faktor kunci: keahlian ( skill ) dan fasilitas (tanah). Itulah alasannya Ciputra datang menemui Pemerintah DKI Jaya yang kala itu dipimpin oleh Gubernur H.Soemarno Sosroatmodjo. Kejadian itu tahun 1961, ketika Ciputra berusia 30 tahun dan baru lulus dari Jurusan Arsitektur ITB.

Mulailah dari apa yang ada pada diri kita; mulailah dari apa yang bisa kita lakukan. Coba sadari pengetahuan apa yang kita miliki, atau keahlian apa yang sesungguhnya bisa dijadikan pijakan awal, dan adakah kawan-kawan yang bisa diajak ikut berbisnis? Mulailah dari langkah-langkah kecil, sambil merajut visi dan mimpi berikutnya.

Ciputra masih dengan jelas mengingat bagaimana ia sampai pada langkahnya ini.

“Saya memilih DKI sebagai mitra bisnis, karena saya tahu dia punya fasilitas (tanah). Saya punya keahlian dan orang, tetapi saya tidak punya uang. Yang penting di dunia properti dua hal, management skill dan tanah. Kalau ada skill, tanah itu menyusul, dengan adanya skill dan tanah maka uang akan datang dengan sendirinya” kata Ciputra.

Bahkan dalam melanjutkan ekspansinya ke luar negeri seperti ke India, negara-negara teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Libya prinsip seperti inilah yang ia ingin jalankan. “ Tujuan saya ke Timur Tengah, adalah mencari mitra bisnis di sana yang punya tanah,” ada dua alasan mengapa Ciputra selalu mencari mitra bisnis dalam penyedian lahan. Alasan pertama, bila ia datang ke suatu negara untuk membeli tanah, ia pasti memerlukan modal yang besar. Sedangkan bila bentuknya adalah bermitra, tanah itu akan mendatangkan manfaat bagi kedua belah pihak secara berkesinambungan. Alasan kedua, adalah karena Ciputra memang memiliki keunggulan dalam konsep dan eksekusi pembangunannya, sehingga kemitraan itu akan menjadi saling melengkapi.

Sampai dewasa ini pola kemitraan merupakan strategi Ciputra dalam mengembangkan kelompok bisnisnya. Bahkan, penekanannya terhadap pola kemitraan tampaknya merupakan penemuan kembali strategi yang dulunya sempat ia tinggalkan. Ciputra bercerita, pada masa sebelum krisis, ia sempat meninggalkan prinsip kemitraan itu dengan jalan sendiri. Kelompok bisnisnya cukup banyak meminjam dari bank untuk pembelian tanah. Ketika krisis ekonomi terjadi, pinjaman yang sebagian besar denominasinya adalah mata uang asing, membengkak. Untungnya, masalah ini sudah dapat diatasi dengan melakukan restrukturisasi pembayaran utang. Dan ,itu menjadi pelajaran bagi Ciputra.

Sekarang saya kembali ke resep saya mula-mula. Saya bermitra dengan orang yang punya tanah. Dulu, di awal langkah saya sebagai entrepreneur, saya, bermitra. Kemudian sesudah besar saya jalan sendiri. Pinjam uang dari bank. Setelah krisis, kembali ke resep semula. Resikonya lebih sedikit. Sesudah tanah itu bangun, dijual lalu bagi hasil.

Carilah mitra bisnis yang melengkapi keunggulan anda. Pola kemitraan akan memperkecil resiko masing-masing pihak dan memperbesar kemungkinan berhasilnya, karena dapat mempermudah dan mempercepat proses bisnis itu sendiri.

Sumber : Wadhan, Konsepsi semangat kewirausahaan ciputra : Kesesuaian dengan Konsep Ekonomi Islam, STAIN Pamekasan

Referensi :

  • George H.Ross dan Andrew James McLean, Trump Strategies for Real Estate, John Wiley and Sons, Inc, 2005.
  • Ciputra dan Antonius Tanan, Menjadi Manusia Unggul yang Disertai Tuhan , Penerbit Betlehem, 2003
  • Rodney Overton, Are You an Entrepreneur?, Wharton Books, 2002
  • Raymond W.Y. Kao, Entrepreneurship- A Wealth Creation and Value- Adding Process , Prentice Hall, 1995.