Dianggap Ilegal Catalonia Referendum Berakhir Bentrokan

Referendum Catalan Kisruh, 91 Orang Cedera

BARCELONA – Sedikitnya 91 orang menderita luka-luka dalam bentrokan antara aparat kepolisian dengan demonstran Catalonia terkait referendum kemerdekaan Catalan, Minggu (1/10).

Juru bicara Kementerian Kesehatan Catalan menyatakan, secara keseluruhan terdapat 337 orang bentrokan referendum yang berakhir memeriksakan diri ke rumah sakit atau pusat layanan kesehatan. Namun sejauh ini hanya 91 orang yang terkonfirmasi berakhir menderita luka-luka, satu di antaranya luka serius.

Sementara itu Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan sedikitnya 11 polisi terluka dalam bentrokan tersebut. Mereka terkena lemparan batu dari demonstran referendum.

“Puigdemont dan timnya bertanggung jawab atas semua bentrokan yang terjadi hari ini dan untuk segala yang bisa terjadi jika mereka tidak mengakhiri lelucon referendum ini,” kata Perwakilan Madrid di Catalon Enric Millo dalam sebuah konferensi pers mengacu pada Presiden Catalan Carles Puigdemont.

Berakhir bentrokan Catalonia: Sejumlah orang bentrok dengan petugas polisi Spanyol di tempat pemungutan suara di luar Stasiun Ramon Llull di Barcelona, Minggu (1/10) dalam referendum kemerdekaan untuk Catalan yang dianggap ilegal serta dilarang oleh Madrid.
Berakhir bentrokan Catalonia: Sejumlah orang bentrok dengan petugas polisi Spanyol di tempat pemungutan suara di luar Stasiun Ramon Llull di Barcelona, Minggu (1/10) dalam referendum kemerdekaan untuk Catalan yang dianggap ilegal serta dilarang oleh Madrid.

Pemerintah Spanyol mengambil tindakan keras terhadap referendum Catalonia kemerdekaan Catalan. Mereka menuntut agar pemerintah separatis Catalan membatalkan referendum ilegal tersebut serta menyebut pemungutan suara Catalonia tersebut dianggap sebagai “lelucon”.

“Melanjutkan lelucon Catalonia ini tidak masuk akal, ini referendum ilegal tidak mengarah ke mana pun, mereka harus segera berakhir menghentikannya,” kata Wakil Perdana Menteri Soraya Saenz de Santamaria, kemarin (1/10).

Menurutnya, pemerintah Catalan telah berperilaku secara tidak bertanggung jawab dengan mencoba untuk membatalkan hukum dan keadilan di Catalan.

“Saya tidak tahu di dunia apa (Presiden Catalan Carles) Puigdemont hidup, tapi demokrasi Spanyol tidak berakhir berjalan seperti ini. Kami telah terbebas dari kediktatoran untuk waktu yang lama,” kata Saenz de Santamaria yang mengacu pada kediktatoran Franco.

Ilegal, Sita Kotak Suara Catalonia

Madrid sejak awal mengkritik keras pemerintah Catalan karena dianggap mendorong undang-undang yang membuka jalan bagi Catalonia referendum di parlemen daerah Catalon. Madrid berpendapat bahwa referendum itu dianggap ilegal karena dianggap bertentangan dengan Konstitusi. Namun para pemimpin Catalan mengklaim memiliki hak untuk menentukan masa depan Catalonia mereka meskipun tidak diizinkan oleh Konstitusi.

Polisi Spanyol mengambil aksi dan tindakan terhadap para warga yang dianggap ingin memberikan suara dalam referendum Catalan. Mereka memaksa para pemilih menuju satu titik yakni pusat olahraga di Girona, di mana pimpinan kelompok separtis dijadwalkan memberi suara. Para saksi mata menyatakan, aparat juga menembakkan peluru karet ke bentrokan pengunjuk rasa.

Namun Millo menilai tanggapan polisi “proporsional”. Dia juga mengatakan kepolisian regional Catalan telah meminta bantuan dari polisi nasional untuk memblokir pemungutan suara yang terjadi di 233 tempat pemungutan suara.

“Ini adalah isyarat daripada menghormati mereka,” kata Millo, beberapa jam setelah dia mengeluh bahwa polisi regional Catalan tidak melakukan apapun untuk mencegah bentrokan pemungutan suara terbuka berakhir.

Menteri Dalam Negeri Spanyol Juan Ignacio Zoido juga mendesak pihak berwenang Catalan “untuk berakhir menghentikan aksi yang dianggap gila ini”. Dia menambahkan bahwa sistem komputer yang menurut otoritas Catalan mereka siapkan mencegah pemungutan suara dua kali dalam referendum “tidak berjalan”.

Petugas dari kepolisian Garda Guardia Spanyol mengunjungi pusat komunikasi pemerintah Catalan di Barcelona pada hari Sabtu, memotong hubungannya dengan tempat pemungutan suara dan akses ke perangkat lunak yang memungkinkan pemungutan suara secara online.

Tutup Akses

Sebelumnya polisi telah berupaya menutup akses masuk ke tempat pemungutan suara dan merampas kotak-kotak suara. Namun ribuan orang tetap tumpah ruah di jalanan untuk memberikan suara. Begitu tempat pemungutan suara dibuka, pada Minggu (1/10) pagi waktu setempat, kisruh bentrokan dengan polisi pun tak terhindarkan. Dikabarkan, pelaksanaan pemungutan suara tidak hanya berlangsung di sekolah-sekolah, tapi juga di pusat kesehatan dan panti jompo. Sejumlah petani dan pemadam kebakaran juga menjadi pendukung referendum dengan melindungi tempat pemungutan suara.

“Votarem, votarem!”, sorak massa, yang berarti ‘Kami akan memilih,” dalam bahasa Catalan. Di tengah guyuran hujan di Barcelona, pelajar dan aktivis yang bermalam di sekolah juga ada yang berupaya mempertahankan tempat pemugutan suara dari gempuran polisi.

Telvisi lokal pun menayangkan ribuan orang di kota dan desa di sejumlah wilayah, seiring dengan pengumuman kelompok separatis pemerintah bahwa referendum akan tetap berjalan sebagaimana direncanakan.

“Hari ini adalah hari bersejarah bagi kami,” kata Maria Rosa Pi-Sunyer Arguimbau, 55 tahun, setelah seorang pria berlari diam-diam membawa kotak suara dari kendaraan ke depan pintu. Sementara polisi berjaga-jaga tak jauh dari sana.

Kotak suara menjadi sorotan selama krisis referendum, khususnya akan perkiraan di mana mereka disembunyikan, dan bagaimana diantarkan ke tempat pemungutan suara referendum. Sementara, polisi diperintahkan untuk menangkap apapun yang terkait dengan referendum. Sebelumnya dikabarkan polisi setempat telah menutup sebagian besar dari total 2.315 tempat referendum pemungutan suara.