Karya tak bisa lepas dari apresiasi atau penghargaan para penikmat, termasuk lagu karya para pemusik. Apresiasi penghargaan yang diberikan banyak macam. Salah satunya memberikan penghargaan dengan mendendangkan lagu termasyhur itu secara khusus untuk penggemar lain.

Di Semarang, persembahan penghargaan itu dilakukan oleh grup musik Tanpa Title. Mereka memberikan penghargaan kepada lagu-lagu karya grup musik yang dibentuk pada 1969, Koes Plus.

”Alasan kami menggunakan nama grup Tanpa Title, bagi kami kata ‘plus’ di Koes Plus itu gelar. Jika mengunakan kata itu harus konsekuen membawakan lagu Koes Plus secara sempurna. Kami mencoba membawakan lagu-lagu Koes Plus sebaik mungkin,” kata Haridjoko, pemain bas grup musik Tanpa Title.

Haridjoko membawakan lagu karya Koes Plus sejak 1992. Pada mas awal itu, dia melihat lagu Koes Bersaudara masih banyak digemari masyarakat. Baik masyarakat pada era Koes Plus berjaya maupun saat masih remaja.

”Koes Bersaudara menginspirasi grup pop saat itu. Melihat keadaan itu, kami ingin menghormati penghargaan karya Koes Plus dengan melestarikan lagu-lagu mereka. Akhirnya kami membuat grup musik yang membawakan lagu Koes Plus. Tanpa Title kami bentuk 15 Agustus 2015,” katanya.

Dia menuturkan Tanpa Title berpersonel Haridjoko (bas), Didik (gitar & vokal), Bombom (keybord), dan Mukri (drum). Mulailah mereka pentas di berbagai panggung yang menginginkan lagu Kose Plus didendangkan. ”Koes Plus menciptakan lagu sesuai dengan keadaan sekitar. Saat sedang jatuh cinta, mereka membuat lagu cinta. Saat prihatin, mereka membuat lagu prihatin. Saat orang memuja negaranya, mereka membuat lagu tentang negara yang berjudul ‘Kolam Susu’,” tutur dia.

Lagu-lagu itu, kata dia, mengalir secara sederhana dan untuk diterima masyarakat. Koes Plus memainkan irama yang gampang dinikmati. ”Bagi anak muda, lagu mereka enak dicerna. Bagi generasi lama, lagu mereka membawa memori. Sampai sekarang, lagu mereka masih banyak disukai. Malah saat ini ada beberapa lagu yang diaransemen ulang dan anak muda sekarang mengenalnya sebagai lagu baru. Itu menunjukkan lagu Koes Plus tidak ketinggalan zaman.”

Selain sederhana, lagu Koes Plus juga mempunyai bermacam jenis. Mulai dari keroncong, pop Melayu, sampai pop Barat. ”Mereka cerdas dalam bermusik. Mereka mampu mengikuti selera masyarakat saat itu. Bagi kami, Koes Plus menunjukkan sederhana itu indah,” katanya.

Penghargaan Penggemar God Bless

Selain itu, di Kudus ada grup musik Rock Bless. Para pemusik itu memilih penghargaan untuk memainkan karya-karya milik God Bless. Para personel grup musik yang berdiri pada 26 Agustus 2011 itu memang penggemar God Bless. Mereka sudah sangat sering membawakan puluhan lagu God Bless.

Gurp Rock Bless itu beranggota enam orang. Mereka adalah Isrofan, Faisol, Adif, Arifin, Ivan, dan Arul. Rock Bless telah naik dari panggung ke panggung. Beragam acara komunitas musik rock dan penggemar God Bless sering mereka isi.

Padahal keenam anggota Rock Bless memiliki kesibukan beragam. Sang vokalis, Isrofan, bekerja di perusahaan percetakan dan peralatan suara. Sang gitaris, Faisol dan Adif, menjadi tenaga pemasaran sebuah perusahaan swasta. Pamin keybord, Ivan, adalah guru SMA.

Arifin, pemain bas Rock Bless, bekerja di penyelenggara pernikahan. Adapun sang penabuh drum, Arul, adalah karyawan perusahaan swasta. Meski memiliki kesibukan masing masing, mereka selalu menyempatkan diri bermusik.

Tak hanya setiap menjelang acara, setiap kali ada waktu senggang mereka berlatih bersama. ”Meski karya God Bless menjadi menu wajib, kami sesekali juga memainkan karya Iwan Fals, Grassrock, atau Kaisar. Kami menamakan grup musik kami Rock Bless, yang berarti penggemar musik rock dan akhiran diambil dari God Bless sebagai penghargaan kami penggemarnya. Jadi untuk mengganti suasana baru, kami mainkan musik-musik rock selain milik God Bless,” ujar Adif.