Para atlet ataupun mereka yang gemar berolahraga, terutama olahraga kardio seperti lari, ‘akrab’ dengan luka blister pada kakinya. Apa itu blister? Apakah semua orang bisa mengalaminya?

Blister atau melepuh merupakan tonjolan pada permukaan kulit yang di dalamnya terdapat kumpulan cairan. Cairan tersebut bisa berisi darah, nanah, ataupun cairan bening (cairan ekstrasel atau interstisial), yang bisa pecah sewaktu-waktu.

Keberadaannya memang tidak berbahaya, tapi sangat mengganggu. Yang tak kalah penting untuk diketahui, blister itu sendiri tidak terasa gatal, sakit atau nyeri. Namun akan terasa nyeri bila ada tekanan. Misalnya bila lepuhan terletak di telapak kaki, ketika kaki dipakai untuk menapak, bertelanjang ataupun memakai alas kaki, akan terasa nyeri.

Pergesekan telapak kaki yang melepuh dengan alas kaki yang dikenakan itu, otomatis membuatnya nyeri atau sakit. Dr Darmawati Ayu Indraswari, Msi, Med. dari RSND Semarang menjelaskan, ada bermacam-macam jenis blister.Pergesekan telapak kaki yang melepuh dengan alas kaki yang dikenakan itu, otomatis membuatnya nyeri atau sakit.

Antara lain yang disebabkan luka bakar, infeksi virus, dan gesekan. “Dalam kehidupan sehari-hari, yang umumnya terjadi blister pada kaki akibat gesekan (sepatu),” ujarnya. Mengapa pada kaki?

Gesekan yang terjadi akibat sepatu, bisa karena sepatu sempit, atau yang bahannya kaku sehingga menyebabkan kulit sekitarnya mudah lecet. Jadi, tak hanya atlet atau mereka yang sering berolahraga saja yang bisa terkena, siapa saja bisa mengalami blister.

Keberadaan blister pada akhirnya akan pecah. Baik itu karena dipecah dengan sengaja, ataupun pecah dengan sendirinya. Bila ukuran blister itu kecil, tubuh kita secara ototmatis bisa menyerap cairan yang ada di dalamnya. Atau, bila keberadaan blister tidak mengganggu, tidak masalah bila kita menunggu pecah dengan sendirinya. Bila cairannya terlalu banyak, atau blister berada di tempat yang tidak nyaman, maka perlu dipecahkan.

Berapa lama luka melepuh membutuhkan waktu untuk pecah secara alamiah atau dengan sendirinya, tergantung dari seberapa lama cairan di dalamnya diserap tubuh kita, atau seberapa berat gesekan yang terjadi. Contohnya bila blister pada telapak kaki yang berdiameter kira-kira satu inci, bisa pecah dalam waktu kurang lebih seminggu.

Bolehkah dipecah sendiri?

Untuk memecahkan sebuah blister, tentu saja tidak semudah memecahkan balon. Untuk melakukannya, Anda bisa mendatangi klinik terdekat. Namun, bolehkah kita melakukannya sendiri di rumah? Boleh saja, asal Anda bisa menjamin alat yang dipakai benar-benar steril.

Bila kurang steril, sama saja dengan memasukkan kuman ke dalam tubuh Anda. Alat yang bisa digunakan untuk memecah blister adalah jarum. Caranya dengan menusukkannya kesekeliling luka yang melepuh (yang tentunya kaki Anda sudah dalam keadaan bersih). Jarum yang ditusukkan disekelilingnya ini bertujuan untuk mengeluarkan cairan. Tekan permukaan blister pada saat mengeluarkan cairan, untuk memastikan isinya telah ‘kosong’. “Jarum yang dipakai sebaiknya jarum suntik yang masih baru. Sangat tidak disarankan untuk membakar jarum yang sudah terpakai atau peniti dengan maksud untuk mensterilkannya, karena kita tidak bisa menjamin apakah sudah pasti steril atau belum,” papar dokter yang juga seorang pelari tersebut.

Setelah blister pecah dan isinya ‘kosong’, berikutnya yang harus Anda lakukan adalah menutupnya dengan plester. Bila ukurannya kecil, bisa dengan menempelkan plester yang biasa digunakan untuk menutupi luka kecil ringan. Bila ukuran lukanya besar, bisa menggunakan kain kasa kemudian diplester (diperban).

Mengapa bekas blister harus dalam keadaan tertutup? Plester tersebut selain untuk melindungi luka, fungsinya untuk menyerap air (sisa-sisa cairan yang terdapat di dalam luka melepuh). Bila perban atau plester telah basah atau berubah warna, segera ganti agar luka tetap bersih. Nah bila Anda yakin luka sudah mengering, baru boleh dirawat terbuka alias tidak harus diplester lagi.

Pilih sepatu yang tepat

Blister tentu saja bisa dihindari. Bagaimana caranya? Kuncinya ada pada sepatu yang Anda pakai. Pastikan ukurannya sesuai, nyaman dan tidak kesempitan. Pastikan juga sepatu yang Anda kenakan sesuai dengan bentuk kaki, tak hanya dari segi panjangnya, tapi juga lebar, dan alasnya yang sesuai dengan kontur telapak kaki; cekung atau flat (datar).

Karena blister sering terjadi pada mereka yang aktif berolahraga, maka penting untuk diketahui, sepatu olahraga harus sedikit lebih besar daripada sepatu lainnya. Misalnya nomor sepatu Anda 39, maka khusus untuk sepatu olahraga pilih ukuran 40. Mengapa? “Kalau kita berolahraga lebih dari satu jam, darah berkumpul di kaki, kondisi ini membuat kaki jadi membengkak. Jadi, sepatu kita memiliki ruang yang bisa mengakomodasi kaki yang membengkak tersebut,” jelas Darmawati.

Selain ukuran dan bentuk sepatu yang harus sesuai dengan kaki, bahan apa atau material sepatu juga harus diperhatikan. Bahan yang kaku cenderung membuat kaki mudah lecet dan terjadi blister. Ada anggapan yang mengatakan, kalau sepatu masih baru, wajar kalau terasa kaku. Nah, ini kembali lagi ke soal kenyamanan sepatu. Bila dari pertama memakainya kaki sudah ‘protes’merasa tidak nyaman, coba pikirkan kembali, apakah Anda bisa merasa nyaman seterusnya?

Terakhir, kaus kaki. Kaus kaki sepertinya sepele, namun ini juga memegang peranan yang cukup penting. Kaus kaki yang bagus akan membungkus kaki dengan pas, sehingga bisa membantu menghindari dari kaki melepuh. Bagi Anda yang aktif berolahraga, pilih jenis kaus kaki ‘anti-blister’.