JAKARTA- Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan berjanji segera merampungkan uji publik penyusunan peraturan pengganti Peraturan Menteri Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek alias taksi daring atau taksi online.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Hindro Surahmat mengatakan, saat ini uji publik daring yang sudah dilakukan baru di Makassar.

”Paling akhir bulan ini sudah harus uji publik. Harus cepat di uji karena menyangkut hidup orang banyak,” katanya usai pemberian penghargaan kepada pemenang Abdi Yasa Teladan di Kemenhub Jakarta, Kamis (14/9).

Dia menjelaskan, penyusunan peraturan baru taksi daring tersebut masih dalam tahap diskusi dan menerima masukan masukan dari pemangku kepentingan terkait.

”Masukan-masukan yang sudah kami terima, prinsipnya angkutan daring itu harus diatur. Itu diserahkan ke pemerintah untuk mengatur dan teknologi itu memang harus tetap berjalan karena keniscayaan, kita tidak bisa mengabaikannya,” katanya.

Hindro juga memastikan dalam batas dua bulan ini peraturan baru tersebut sudah terbit. Terkait 14 poin yang dianulir dalam Peraturan Menhub 26/2017 oleh putusan Mahkamah Agung, dia mengatakan masih dalam pembahasan apakah akan dimasukkan kembali ke dalam aturan online yang baru, seperti soal kuota dan tarif batas atas dan bawah.

”Kita menyiasati saja bagaimana. Semua akan dibahas, jangan ditanya hasil karena semuanya belum selesai,” katanya. Seperti yang diketahui, MA telah menganulir 14 poin dalam Permenhub 26 Tahun 2017.

Artinya peraturan online tersebut tidak lagi berlaku selama tiga bulan sejak putusan uji materi tersebut dikeluarkan, yakni tanggal 1 bulan Agustus 2017. Dengan demikian, Permenhub itu tidak lagi berlaku dan Kemenhub harus menyusun peraturan baru sebagai payung hukum pengoperasian taksi daring.

Faktor Manusia

Sementara itu, pada acara kemarin Hindro juga mengungkapkan, faktor manusia masih menjadi penyebab terbesar kecelakaan, yaitu sekitar 80-90 persen di samping faktor teknis.

”Faktor terbesar kecelakaan itu manusia. Pada beberapa penelitian itu 80-90 persen,” katanya. Hindro menambahkan, faktor lain ini yang menjadi penyebab kecelakaan yakni teknis dan kondisi jalan.

Untuk itu, dia mengatakan sebagai pengemudi online publik selain harus fit dan bebas narkoba, juga harus terampil dalam mengetahui kondisi kendaraan yang akan dipakai publik.

”Mobil atau truk online yang dipakai ini bisa saja laik ketika di pool, tapi di tengah jalan bisa jadi tidak laik karena ada masalah. Untuk itu pengemudi diharapkan bisa menyiasati,” katanya.

Dia mengatakan pengemudi online juga harus paham mengenai kerusakan dasar, seperti rem blong dan pencegahan kecelakaan. ”Kalau kapasitas penuh dan jalan menurun, kemudian rem blong itu berbahaya sekali. Rem tidak didesain untuk overload, harusnya tidak ada toleransi,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat memberikan penghargaan terhadap lima pemenang Abdi Yasa Teladan.

Lima pemenang tersebut, yaitu Peringkat I Hari Susilo (PT Serasi Transportasi Nusantara / O-renz Taxi), Peringkat II Sumaro Wahyu Widada (Panser Travel Group Maninjau), Peringkat III Donny Endra Darmawan (Silver Bird), Harapan I Sepju Hanes (Ikatan Sopir Pariwisata Belitung), Harapan II Cecep Suherman (Aero Cab Kokapura).