Sebutlah nama Cannes, sebuah kota pesisir di Prancis Selatan, tepatnya di Provinsi Alpes CÙte d’Azur, atau di French Riviera, maka semua orang yang telah berkeliling Eropa, akan bersepakat tentang pesona keindahannya.

Tidak seperti kota Dunkerque di Prancis Utara yang sesak dengan kisah tragedi. Dan baru-baru difilmkan dengan luar biasa oleh Christoper Nolan dalam film berjudul Dunkirk, Cannes adalah firdaus yang banyak dirindukan oleh siapa saja yang melek pesonanya.

Buktinya, seorang pramugara salah sebuah maskapai terkenal di dunia, ketika mengetahui penulis hendak ke Cannes, via Nice dari Istambul Turki, langsung berucap,”Pasti uang Anda banyak ya. Karena hanya orang ‘punya’ yang berlibur di Cannes,” katanya merujuk kota tujuan wisata sekaligus tuan rumah agenda tahunan Cannes Film Festival, Cannes Lions International Advertising Festival, dan berbagai event premium lainnya itu.

Gambar Dermaga Cannes : Di Dermaga Cannes merapat ratusan yacht berlatar belakang Fort Royal di Ile Sainte Marguerite, kota tempat Iron Mask dipenjara.
Gambar Dermaga Cannes : Di Dermaga Cannes merapat ratusan yacht berlatar belakang Fort Royal di Ile Sainte Marguerite, kota tempat Iron Mask dipenjara.

Turunan dari berbagai event premium yang banyak digelar di Cannes, sejumlah toko barang mewah banyak membuka gerainya di sini. Sebutkan semua merek terkemuka di muka bumi yang absen di Cannes. Semua ada! Tak ketinggalan, sejumlah restoran wahid serta hotel bintang lima juga terus berlomba-lomba mengembangkan bisnisnya di jalan kota ini.

Belum lama ini, atau pada 2011 para petinggi negara G20 juga menjadikan kota eksotik itu, sebagai sebuah tempat pertemuan puncak mereka. Di kota yang resik dan sesak dengan bangunan bersejarah ini, sejarah masa lalu yang gemilang, dijaga dengan baik, sebaik para orang tua menjaga anak gadis mereka. Itu semua makin membuat Cannes berwibawa sebagai salah satu kota tujuan vakansi premium di Eropa.

Sangat dipercaya, bangsa Yunani kuno sejak abad ke-2 sebelum Masehi, sudah tinggal di kota ini, dan menjadikannya sebagai desa pemancingan. Sebelum akhirnya bangsa Roma menjadikan kota yang berlaut Mediterania ini, sebagai salah satu pijakan kakinya, sebelum menancapkan kekuasaannya di negeri seberang.

Sejak saat itu pula Cannes pelan dan pasti menjadi kota persinggahan yang meninggalkan bekas mendalam bagi siapa saja, yang pernah menginjakkan kakinya di sana, karena pesona keelokannya. Bahkan seiring berjalannya waktu, pada abad ke-18 keindahan pesona kota itu, baik secara geografis maupun arsitektural, sempat membuat bangsa Spanyol dan Inggris saling berebut hendak mengakuisisinya.

Sebelum niat mereka tumbang berkat perlawanan bangsa Prancis. Singkat kata, kota ini meninggalkan sebuah jejak panjang historiografis yang membuat siapa pun ingin memiliki atau sekadar menyinggahinya.

Oleh karenanya, sejumlah situs penting di kota ini, seperti pembangunan rel kereta api, sudah ada sejak abad ke-19, bahkan pembangunan jalan modern sudah ada di abad yang sama. Wajar, sampai sekarang, ketika kita berada di Boulevard Carnot, the rue d’Antibes, juga the Carlton Hotel di Promenade de la Croisette, nuansanya langsung melempar kita ke suasana masa lampau.

Bahkan di pusat gelaran Cannes Film Festival, sebuah rumah judi atau kasino terkenal berada, bernama Palace, sudah ada sejak 1979. Kasino ini, hanya berjarak sebenang dengan dermaga AlbertEdouard. Sebuah dermaga tempat ratusan kapal pesiar atau Yacht menambatkan dirinya. Di dermaga ini, kaum jet set dari berbagai belahan dunia biasanya merayakan waktunya sembari berpesta, bergembira dan berlupa. Mengabaikan semua kepelikan persoalan kehidupan, dengan menilapnya via kekayaan berlimpah yang mereka punya.

Saat ini, jika nasib baik membawa kita berlabuh di Cannes, ratusan pelancong dari Italia, Spanyol, Rusia, juga China bersliweran di sejumlah tempat di Cannes. Entah sekadar menapaki jalan berbatu di kota Cannes kuno, atau sekadar bersiborok mata dengan mata nyalang para penjudi ketika keluar dari sejumlah rumah judi. Kalau mata mereka nyalang, sebagaimana diceritakan seorang pemilik cafe di Juan Les Pins sebuah kota kecil berjarak 15 menit dengan kereta dengan Cannes berarti para penjudi itu kalah dalam jumlah tak berbilang.

Demikian sebaliknya, kalau berbinar, dan rekah senyumnya, dipastikan ada cerita kemenangan di sana. Hanya sedikit penjudi sejati, yang menerima kekalahan dan mendapatkan kemenangan dengan cara wajar.

Tabiat para penjudi dari berbagai belahan dunia sudah dimaklumkan di sini. Menimbang rumah judi sudah disyahkan sejak lama. Selain itu, mereka para penjudi meyakini, olah raga sejati dan salah satu yang paling purba, adalah berjudi.

Untung saja citra sebagai kota judi, segera ditutup dengan potret positif gelaran Cannes Film Festival sebelum perang Dunia II meletus, tepatnya pada 20 September 1946, meski pada awal gelarannya masih bertempat di rumah judi Casino Municipal.

Sejak itu pula, Cannes identik dengan gelaran festival film kelas dunia. Sebutkan bintang film kelas dunia yang belum pernah menginjakkan kakinya di Cannes? Bahkan baru-baru ini, Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger, Harrison Ford, Mel Gibson dan Antonio Banderas secara berbarengan menghebohkan Cannes sembari menunggangi tank, demi mempromosikan film; The Expendables 3, di gelaran Cannes Film 2014.

Makin Elok

Simbol Perfilman Dunia : Statue kamera, simbol pusat perfilman dunia di depan Palais des Festival, Cannes.
Simbol Perfilman Dunia : Statue kamera, simbol pusat perfilman dunia di depan Palais des Festival, Cannes.

Bayangkan, apa yang terjadi jika sejumlah nama benderang datang berbarengan di kota bernama Cannes? Maka yang terjadi kehebohan yang sulit reda. Bahkan hampir separuh peserta Marche du Films, atau Pasar Film yang merupakan bagian tak terpisahkan dari gelaran Cannes Film Festival, berebut turun ke jalan, demi menyaksikan secara langsung paras para bintang Hollywood itu.

Cap Tangan : Cap tangan Luc Besson, sutradara Prancis saat ini, di depan Palais des Festivals, Cannes.
Cap Tangan : Cap tangan Luc Besson, sutradara Prancis saat ini, di depan Palais des Festivals, Cannes.

Tapi jangan salah. Ada atau tidak ada para selebritas Hollywood itu, Cannes tetaplah Cannes. Yang keindahannya sangat mencolok terutama di sejumlah jalan utama. Seperti jalan Promenade de la Croisette, yang banyak dihiasi pohon palm yang menjulang tinggi di sepanjang kanan dan kiri jalan.

Keindahan jalan ini semakin sempurna, saat senja mengunjunginya. Sementara di sisinya, laut mediterania yang tenang, menawarkan pesona Cannes yang berbeda. Di sepanjang jalan La Croisette yang bersalaman dengan tepian pantai inilah, kala senja tiba, nuansanya tak ubahnya kartu pos yang banyak dijajakan di sejumlah toko kelontong, cafe, restoran juga butik yang banyak terdapat di sana.

Suasana Nyaman : Suasana jalanan yang nyaman di kota Cannes.
Suasana Nyaman : Suasana jalanan yang nyaman di kota Cannes.

Apalagi jika kita meluangkan waktu berjalan ke kota tua Le Suquet, yang letaknya agak meninggi di atas bukit, maka pesona La Croisette akan terlihat makin elok. Belum lagi adanya kapel di sekitar tempat itu, bernama Chapel of St Anne di MusÈe de la Castre yang membuat Cannes menjadi makin berbeda.

Jika Anda sudah menyaksikan film ”The Man in the Iron Mask”, (1998) yang dilakoni Leonardo DiCaprio, dalam sebuah adegannya, digambarkan dia terpenjara dalam sebuah benteng di atas bukit di sebuah pulau. Adegan itu diambil di Œle Sainte-Marguerite. Atau St Marguerite Island, yang letaknya tak seberapa jauh dari Cannes.

Merek Sohor : Puluhan merek sohor dunia ada semua di pusat kota Cannes.
Merek Sohor : Puluhan merek sohor dunia ada semua di pusat kota Cannes.

Singkat kata, Cannes yang berjarak 24 km dari bandara Nice CÙte d’Azur, bukan sekedar sebagai kota wisata kaum jet set belaka. Di Cannes berbagai aktivitas seni, politik, ekonomi, juga industri digulirkan dengan sama baiknya. Sebaik sebuah kota bersejarah dikelola dengan modern, tanpa menghilangkan ketradisionalannya.

Yang makin membuat menyenangkan Cannes, bukan semata ketika lampu merkuri mulai dinyalakan, dan hampir seisi kota seperti meluangkan waktunya di beranda cafe, dan restoran untuk merayakan malam yang jelma. Tapi juga akses dari dan menuju Cannes dapat dengan gampang dilakukan, hanya dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Jadi, penduduk kota dipaksa untuk sehat. Jika hendak berpergian ke luar kota juga negeri jiran pun, kereta supercepat TGV dari Cannes bersiap mengantar kita menuju Nice, Marseille, Lyon, Paris, Toulouse, hingga Brussels, Milan, Basel, Roma, sampai Venice di Italia hanya dalam hitungan jam. Apalagi hanya sekadar ke Monte Carlo, Monaco yang hanya berjarak 1 jam 15 menit dari Cannes.

Kalau mau lebih bergaya, dari Cannes naiklah Yacht sebagaimana kaum jet set berpergian ke Monte Carlo Monaco, atau hingga ke St Tropez dan St Raphael, sebagai kota marina yang keindahannya 11-12 dengan Cannes. Syaratnya cuman satu, sediakan Euro secukupnya. Paling tidak, bersejawatlah dengan apik dengan para pemilik Euro.