Menunggu Jawaban Novanto Hari Ini, Diminta Tarik dari Ketua Umum Golkar

JAKARTA- Partai Golkar meminta Setya Novanto untuk menunjuk tugas eksekutif penggantinya sebagai ketua. Partai pohon beringin sedang menunggu dan akan mendengarkan jawaban Novanto, Kamis ini (28/9).

“Keputusannya adalah kami merekomendasikan rekomendasi tersebut kepada ketua, nanti ketua umum yang diminta mengambil polis,” kata Ketua DPP Partai Golkar Nurdin Halid dalam jumpa pers di Puang Oca Resto, Senayan, Jakarta, Rabu (27 / 9).

Nurdin mengatakan, Golkar kembali akan diminta mengadakan rapat paripurna, Kamis (28/9) ini. Agenda hanya satu, yaitu menunggu mendengarkan jawaban ketua Novanto. Tapi dia tidak menjelaskan bagaimana metode mendengarkan menunggu jawabannya selesai, mengingat saat ini Novanto masih dirawat di rumah sakit.

“Kami akan diminta mengadakan rapat paripurna besok (hari ini) untuk mendengar apa yang jawaban ketua atas rekomendasi keputusan pertemuan harian tersebut pada hari Senin (25/9),” tambahnya.

Tugas untuk mengajukan surat permintaan Novanto untuk di tarik mengundurkan diri dan menunjuk Ketua Umum, sesuai dengan rapat paripurna, harus dijalankan oleh ketua Nurdin dan Sekretaris Golkar Idrus Marham. Namun, Nurdin tidak mampu, jadi hanya Idrus yang melakukan tugasnya ini.

“Kebetulan setelah pertemuan Golkar (Senin lalu) saya langsung diminta berangkat ke Makassar untuk urusan ibu saya yang sudah meninggal. Kami punya haul akbar memperingati kematian ibu saya, saya langsung terbang, baru saja saya kembali (di Jakarta). Pak Idrus, “kata Nurdin Halid.

Tapi jika Idrus dianggap tidak cukup, Nurdin akan pergi ke Novanto untuk diminta melanjutkan konsultasi mengenai rekomendasi menunggu pengangkatan Ketua baru.

Rapat pleno dari Partai Golkar memutuskan untuk meminta Novanto mengundurkan diri di tarik karena partai tersebut menolak untuk memilih. Dalam survei baru-baru ini, posisi Golkar telah jauh tertinggal dari Partai Gerindra.

Korbid Polhukam Golkar, Yorrys Raweyai, mengatakan elektabilitas partainya terus menurun karena tarik kasus korupsi E-KTP yang diduga melibatkan Setya Novanto. Dia mengatakan Golkar bisa menjadi musuh publik jika tidak memperbaiki citra partai.

“DPP memerintahkan Polhukam untuk melakukan studi, kami menyimpulkan jawaban mengapa elektabilitas Partai Golkar turun dari waktu ke waktu? Lalu menunggu strategi apa yang harus kita lakukan, untuk kembali pulih, melalui brand yang diterima, terutama persepsi masyarakat,” kata Yorrys.

Dari survei Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) pada tingkat elektabilitas partai politik misalnya, diketahui jawaban bahwa Golkar semakin tenggelam. PDIP memegang posisi puncak, Golkar merosot secara signifikan.

Survei CSIS dilakukan pada tanggal 23-30 Agustus dengan 1.000 responden dari 34 provinsi. Responden adalah orang yang sudah memiliki hak untuk memilih. Elektabilitas PDIP tetap tertinggi yaitu 35,1%. Sementara itu, dari elektabilitas Golkar disusul oleh Gerindra bila dibandingkan dengan pemilu 2014. Gerindra berada di posisi kedua (14,2%) dan Golkar di posisi ketiga (10,9%).

Yorrys mengingatkan pada pakta integritas anggota partai Golkar yang dia sebut pijakan semua kader, baik di tingkat regional maupun pusat. Ia mengakui, kondisi psikologis di Golkar dipengaruhi kasus E-KTP yang menyeret nama ketua umum, Setya Novanto.

“Ini secara psikologis agak sulit, ini harus adil, saya katakan, karena, apapun yang dialami pemimpin, semuanya terkikis,” kata Yorrys.

Yorrys menjelaskan bahwa dari hasil menunggu rapat pleno Golkar, disepakati bahwa rekomendasi jawaban partai tersebut meminta agar Novanto bersikap tidak aktif sebagai ketua. Pembicara DPR diminta menunjuk Plt untuk menggantikan Novanto.

“Sudah terkirim, belum kita ketahui Kemarin diputuskan bahwa Sekretaris Jenderal Golkar dan Kepala Harian Golkar akan hadir di sana. Sore ini saya akan bertemu dengan Ketua Harian dan Partai Korbid,” jelasnya.

Yorrys mengakui, untuk meningkatkan partainya elektabilitas terus turun, salah satunya adalah membuat pengganti ketua Novanto. “Karena itu kami anjurkan agar untuk dua alasan ini, agar ketua bisa menjadi negarawan, pasrah, cacat nanti,” kata Yorrys.

Yorrys percaya, perubahan penatalayanan di tubuh pesta beringin akan berlangsung sebelum akhir pertengahan Oktober.

“Saya memprediksi bahwa sebelum 20 Oktober Golkar akan menjadi anggota dewan baru,” kata Yorrys. 20 Oktober, Yorrys mengatakan, bertepatan dengan hari ulang tahun Partai Golkar. Yorrys mengklaim, telah berkomunikasi dengan DPD Golkar tingkat provinsi terkait menunggu masalah ini. DPD Golkar, katanya, juga mengalami keresahan yang sama. Soal musyawarah nasional yang luar biasa (Munaslub), Yorrys mengatakan, perlu diadakan pertemuan tarik tokoh nasional (Rapimnas).

“Karena tahun lalu Rapimnas sudah mengatakan seharusnya tidak ada munas, maka Setya Novanto dipelihara. Untuk mencabut rekomendasi tersebut, perlu ada Rapimnas lagi,” kata Yorrys.