Gerakan tangan dan kaki Lindswell Kwok (25) terlihat gemulai saat ia memeragakan jurus taijijian atau jurus pedang wushu. Namun beberapa kali Lindswell terlihat tegas saat melakukan tendangan maupun lompatan.

Penampilan Lindswell di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Senin (21/8) pekan lalu, itu begitu sempurna. Juri pun tak ragu memberinya nilai 9,68, tertinggi di antara finalis lain.

Nilai Lindwell lebih tinggi 0,03 poin atas atlet wushu Filipina, Agatha Chrystenzen, yang menempati posisi kedua sekaligus meraih perak. Sementara, pewushu tuan rumah, Yee Jo Audrey Chan, meraih perunggu dengan nilai 9,64.

Presiden Indonesia Joko Widodo turut memberikan pujian pada atlet perempuan kelahiran Binjai, Sumatera Utara, itu. ‘’Ini Lindswell Kwok, atlet wushu Indonesia, yang merebut medali emas di SEAGames 2017 di Malaysia kemarin. Ia memainkan jurus pedang di nomor atlet putri taijijian begitu sempurna,” tulis Jokowi di akun Facebook pribadinya, Rabu (23/8).

Tunjukan Medali : Atlet Wushu Indonesia Lindswell Kwok menunjukkan medali emas yang diraihnya di SEA Games 2017 di Malaysia, baru-baru ini.
Tunjukan Medali : Atlet Wushu Indonesia Lindswell Kwok menunjukkan medali emas yang diraihnya di SEA Games 2017 di Malaysia, baru-baru ini.

Kemenangan ini semakin menambah deretan panjang pencapaian Lindswell di level SEAGames. Emas pertama di pekan olahraga tingkat Asia Tenggara dipersembahkan Lindswell pada SEA Games Indonesia 2011 di Palembang dan Jakarta. Hal itu diulanginya pada pada SEA Games Myanmar 2013 dan SEAGames Singapura 2015.

Selain taijijian, Lindswell juga berpeluang mendulang emas dari nomor taijiquan (jurus tangan kosong). Namun, tuan rumah Malaysia tidak memainkan nomor tersebut dalam SEAGames kali ini.

Di ajang yang lebih tinggi, Lindswell juga berhasil mengoleksi empat medali emas di kejuaraan dunia wushu, termasuk kompetisi terakhir yang diselenggarakan di Istora Senayan Jakarta, pertengahan November 2015 lalu. Lindswell dikenal sebagai atlet wushu yang pantang menyerah.

Langkah pertama menapaki tangga juara dimulainya pada 2005 ketika meraih medali perak di kejuaraan nasional wushu yunior. Setahun berselang, di ajang yang sama, perempuan murah senyum ini berhasil memperbaiki posisi dengan meraih emas. Pada 2006 ia turun di ajang internasional untuk kali pertama.

Ia ditunjuk mewakili atlet Indonesia di kompetisi internasional untuk umur 15-18 tahun, World Junior Wushu Championships (WJWC), yang berlangsung di Kuala Lumpur. Dalam kompetisi ini, ia meraih perunggu.Namun, prestasi itu segera ia perbaiki dua tahun berselang dengan meraih emas ketika kejuaraan tersbeut diselenggarakan di Bali.

Sulit Dipelajari

Kejuaraan Wushu Dunia 2009 menjadi ajang pembuktian Lindswell sebagai atlet wushu level internasional. Digelar di Ontario, Kanada, ia turun di dua nomor, yakni taijiquan dan taijijian. Pada nomor taijiquan ia meraih emas, sementara untuk taijijian dia meraih perunggu.

Prestasi maksimal Lindswell memang membanggakan Indonesia. Namun, siapa yang menyangka gadis berparas cantik ini semula tak pernah mencintai wushu. Diakuinya sendiri, Lindswell kecil begitu malas belajar wushu lantaran seni bela diri itu begitu rumit dan cenderung sulit dipelajari.

Unsur seni yang begitu kental dalam olahraga asal Tiongkok ini menjadi alasan utama kenapa wushu ia anggap susah. Alasan lain yang membuatnya patah semangat berlatih wushu adalah kedisiplinan. Menurut dia, atlet wushu membutuhkan tingkat kedisiplinan latihan yang terhitung sangat tinggi. Bagi Lindswell yang kala itu masih cukup belia, kedisiplinan itu kadang dianggapnya berlebihan.

Namun demikian, ia beruntung memiliki kakak yang sabar. Adalah Iwan Kwok, sang kakak, yang memperkenalkan dan terus menyemangati Lindswell berlatih wushu. Perkenalan itu terjadi kala ia baru berusia sekitar sembilan tahun.

‘’Saya beruntung mempunyai kakak yang tak pernah putus asa mengajak saya latihan wushu,’’ ujar Lindswell. Setidaknya butuh waktu bagi Iwan untuk meyakinkan adiknya itu agar mau serius menekuni wushu.

Pria yang dikenal sebagai Sekjen Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI) ini mengakui, Lindswell awalnya memang sama sekali tak tertarik dengan seni bela diri tersebut. ”Jadi, ketika saya mau latihan saya bujuk-bujuk dia dan ajak dia untuk ikut serta. Ya, akhirnya dia mau sampai sekarang,’’ ungkap Iwan pada 2016 lalu.

Selain kakak, kiprah para seniornya yang telah lebih dahulu berprestasi di ajang nasional dan internasional juga menjadi motivasi terbesarnya di olahraga yang memadukan ketahanan dan kelenturan fisik ini.

Setiap kali melihat para senior berangkat ke SEAGames atau Asian Games, ia kian termotivasi untuk ikut mengayunkan pedang demi mempersembahkan emas bagi Indonesia.