Apa Ciri, Gejala, Bahaya Serta Mengatasi Penyakit Masuk Angin Duduk Itu

Tahukah Kamu, Selama ini Penyakit Jantung Kerap Sering Kali Disebut Angin Duduk?

“Hati-hati kalau gejala masuk angin terasa berat, bahaya, bisa jadi itu tanda angin duduk.” Kita kerap mendengar istilah “bahaya angin duduk”, yang diasosiasikan dengan kematian mendadak. Istilah yang hanya ada di Indonesia ini memiliki reputasi sangat buruk. Sebenarnya, apa itu angin duduk?

Istilah angin duduk sendiri masih rancu atau ambigu. Di mana istilah masuk angin sendiri tidak ada dalam istilah penyakit medis. Namun, bila angin duduk merujuk pada gejala penyakit jantung, yang dimaksud adalah penyakit angina pectoris. Yakni gejala nyeri dada atau sensasi tidak nyaman pada dada karena gangguan jantung koroner (coronary heart disease). Disebut jantung koroner karena terjadi gejala penyempitan pada pembuluh darah koroner.

Agar kita lebih waspada terhadap penyakit jantung, ciri gejala tipikal penyakit yang harus diwaspadai adalah nyeri dada. Nyeri dada itu sendiri memiliki sensasi berbeda, yang pada intinya rasa tidak nyaman. Bisa terasa seperti sesak nafas, ditekan, dicengkeram atau diremas, ditusuk, dan terbakar.

” Ciri keluhan-keluhan tersebut tidak bisa hanya ditunjuk dengan satu jari, tapi terasa luas atau melebar. Biasanya gejala terasa pada bagian tengah (dada) atau sedikit ke kiri meski ada juga yang terasa pada bagian kanan. Ada juga gejala yang merembet atau menjalar ke punggung dan lengan (terasa nyeri), leher, rahang serta ulu hati,” jelas dr Sodiqur Rifqi, ketua SMF jantung RSUP dr Kariadi Semarang.

Nyeri dada yang menjalar hingga ke leher akan terasa seperti tercekik, sedangkan yang ke rahang akan terasa seperti sakit gigi. Bedanya, apa bila nyeri terasa setelah mengunyah makanan manis maka yang dialami merupakan sakit gigi biasa. Namun bila ciri nyeri gigi terasa setelah melakukan aktivitas berat, serta ringan ataupun psikis (stres), maka bahaya yang dialami adalah gejala ciri penyakit jantung koroner.

Nyeri dada yang menjalar hingga ke ulu hati akan terasa kembung dan terkadang diikuti sendawa, mirip dengan gejala maag. Bedanya dengan ciri sakit maag, tentu saja ada pada pencetusnya. Ciri ciri kembung yang berasal dari jantung akan muncul setelah penderita melakukan aktivitas fisik. Misalnya ketika ia berjalan cepat, lambungnya langsung terasa tidak nyaman.

Namun gejala yang sama antara penyakit jantung dan maag, adalah kemunculan kembung akibat stres atau cemas. Untuk mengetahuinya, diperlukan pemeriksaan EKG (Electrocardiography). Bila melalui pemeriksaan EKG belum jelas, dilakukan treadmill atau sepeda statis (ergocycle).

Stabil dan Tidak Stabil

Anda perlu mengetahui bahwa semua gejala nyeri tersebut, baik yang hanya terasa pada bagian dada maupun yang menjalar, memiliki ciri muncul setelah melakukan aktivitas fisik, ringan ataupun berat. Dan juga psikis, seperti stres atau cemas. “Semakin ringan pencetusnya, maka semakin berat penyakitnya,” tutur ahli jantung intervensi itu. Misalnya berjalan kaki saja sudah terasa sesak napas, padahal orang lain baru merasa sesak kalau berlari.

Angina pectoris bisa bersifat stabil ataupun tidak stabil. Angina stabil yaitu bila dalam melakukan aktivitas sedang keluhan gejala muncul stabil (tidak semakin berat). Sementara angina tidak stabil, dalam beberapa hari atau minggu ciri keluhan yang terjadi semakin berat. Durasinya muncul lebih lama, lebih sering atau pencetusnya lebih ringan.

Misalnya, yang sebelumnya naik tangga tidak terasa nyeri sekarang menjadi nyeri, beban kerja semakin ringan tapi keluhan semakin terasa. Atau bila sebelumnya terasa nyeri dada dipakai istirahat sudah cukup, sekarang harus mengonsumsi obat. Bisa juga dosis obat yang meningkat. Kalau sudah seperti ini, pasien harus waspada karena mendekati gejala bahaya serangan jantung.

Penanganan

Apabila Anda mengetahui seseorang yang mengalami ciri masuk angin disertai gejala tidak biasa, misalnya disertai keringat dingin maka harus segera mengatasi dibawa ke UGD rumah sakit terdekat. Bila telah melalui beberapa pemeriksaan terbukti serangan jantung, dilakukan dengan mengatasi kateterisasi jantung atau pemasangan ring.

Pemasangan ring dilakukan bila terjadi sumbatan total atau berat. Untuk mengatasi sumbatan masuk yang terjadi harus segera dibuka. Di mana mengatasi ini bisa dilakukan melalui obat-obatan pengencer darah atau pemasangan ring yang jauh lebih efektif. “Bila terjadi gejala sumbatan berat atau total, dalam waktu kurang dari 20 menit harus segera dibuka. Bila lebih dari 20 menit akan bahaya merusak otot-otot jantung,” ungkap Rifqi.

Karena itu, semakin cepat penanganan gejala semakin baik. Apabila ditangani lebih dini, misalnya dengan pemasangan ring, pasien bisa kembali beraktivitas secara normal. Karena belum banyak otot jantung yang rusak. Jika telat mengatasi otot jantung yang sudah rusak, tidak bisa diperbaiki.

Pasien penyakit jantung juga bisa kembali berolahraga, termasuk yang bersifat kardio. Namun pasien harus berkonsultasi dengan dokter jantung untuk mengetahui apa dan seberapa berat mengatasi jenis olahraga yang boleh dilakukan.

Yang Tak Kenal Usia

Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dinilai masih minim. Sebagian dari mereka cenderung hanya memeriksakan diri ke dokter jika pada saat sakit. Dokter spesialis penyakit dalam SMC rumah sakit Telogorejo, dr Witjitra Darmana Samsuria SpPD mengemukakan, medical check up penting dilakukan untuk mengetahui serta mengatasi duduk gangguan yang dialami seseorang. “Pasien nantinya akan mengerti dalam mengatasi langkah langkah selanjutnya. Apa yang boleh dilakukan serta apa yang seharusnya tidak dilakukan,” kata Witjitra.

Dengan preventive health care akan diketahui kelainan yang dialami seseorang yang tidak disadari sebelumnya. Harapannya, kelainan sakit tersebut tidak berlanjut dan bisa tertangani dengan baik. “Kalau ditemukan penyakit yang serius, bisa ditangani dengan baik.

Pasien bisa minta pendapat dari dokter secara profesional. Itu merupakan salah satu keuntungan,” ujarnya. Masyarakat cenderung abai dengan pola hidup sehat. Pengertian pola hidup sehat ini antara lain ditentukan oleh cara olahraga dan makan serta makanan yang sehat. Di sisi lain, dia mengakui untuk menerapkan kedua hal itu cukup sulit.

Witjitra mencontohkan, untuk memperoleh makanan yang betul-betul sehat sekarang sulit ditemui kecuali di rumah. Sebaliknya, makanan yang mudah didapatkan masyarakat (luar rumah) justru rentan mengandung bahan-bahan yang masuk kategori membahayakan.

“Zaman sekarang, hidup sehat itu tidak gampang, karena banyak makanan yang tidak sehat dan mudah ditemui. Misalnya makanan yang mengandung formalin,” tambahnya. Hal lain yang sering kali diabaikan adalah olahraga. Masyarakat saat ini hanya melakukan aktivitas biasa.

Padahal aktivitas ini hanya membuat capai. Berbeda dari olahraga yang memiliki manfaat. “Olahraga berbeda dari aktivitas fisik. Kalau aktivitas membuat capai, tetapi olahraga tidak, karena diprogram dan ada manfaaatnya. Kedua hal itu sulit dilakukan, maka medical check up ini adalah jalan terbaik,” ungkapnya.

Dia menyarankan, tes medical check up dapat dilakukan oleh sesorang pada usia 40 tahun. Namun, lebih baik lagi sudah dilakukan mulai masuk usai 30 tahun. Sering kali yang terjadi, masyarakat datang ke dokter sudah dalam keadaan terlambat. “Tipikal orang Indonesia itu kalau tidak sakit tidak akan periksa. Padahal dengan medical check up kita jadi tahu. Sekarang bagaimana membangkitkan kesadaran masyarakat,” tuturnya.

Dokter Witjitra mengatakan, full medical check up ke rumah sakit justru memang diarahkan ke orang-orang yang tidak mempunyai keluhan sakit. Orang yang tidak memiliki keluhan kadang justru berisiko terhadap masuk -nya penyakit. “Misalkan pada orang yang mengalami ciri obesitas atau orang yang aktivitas kesehariannya duduk di kantor, atau lama duduk, sehingga tidak sering melakukan gerak,” tuturnya.

Kedua, ditujukkan untuk orang orang yang sudah bermasalah akan kesehatannya. Jika sudah tahap ini, tujuan masuk medical check up itu bukan hanya mencegah penyakit, melainkan agar penyakit yang berkembang di kemudian hari tidak terjadi komplikasi.

“Media massa dan media sosial juga punya peran penting untuk masuk menyosialisasikan program pemerintah terkait pencegahan gejala penyakit. Diharapkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan semakin meningkat,” tandas dia.