Wisata Kawasan Hutan Mangrove Pantai Kebumen, Menyusuri Edukasi Alam Daerah Mangrove

Ada tiga destinasi wisata baru di daerah Kedu yang belakangan ini makin moncer dan diminati wisatawan terutama anak muda. Ketiga kawasan objek wisata tersebut yakni, hutan mangrove di Pantai Ayah Kebumen, kawasan top selfie wisata hutan pinus di Kragilan Magelang, serta panorama wisata Lembah Seroja di Dieng Wonosobo. Berikut ini laporan plengdut.com tentang pesona kawasan objek wisata alam di tiga daerah tersebut.

Banyak yang belum tahu Kabupaten Kebumen memiliki hutan mangrove yang indah dan menawan. Kawasan hutan seluas 32 hektare itu berada di sepanjang muara Sungai Bodo di kawasan Pantai Logending, Kecamatan Ayah.

Sejak dikembangkan tahun 2003, dengan dimotori oleh Kelompok Peduli Lingkungan (KPL) Pantai Selatan (Pansela), kawasan pantai yang sebelumnya rusak parah akibat tsunami, saat ini berubah wajah menjadi wisata hutan mangrove yang lestari. Tidak hanya pulih dari bencana, tetapi kawasan tersebut makin asri dengan rerimbunan pohon mangrove berbagai usia.

Siapa pun yang menelusuri kawasan hutan mangrove akan terkagum-kagum dengan indahnya panorama di wisata muara Sungai Bodo tersebut. Perpaduan antara wisata sungai, wisata pohon mangrove, dan deretan perbukitan karst Gombong Selatan yang anggun, membuat menyusuri pantai hutan mangrove laksana mengajak lebur dengan alam Kebumen. Lebih intim dengan alam dan lingkungan hutan.

Ya, upaya pelestarian kawasan wisata Kebumen yang dilakukan KPL Pansela dengan dukungan Pemkab Kebumen khususnya Dinas Kehutananan dan Perkebunan, Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kebumen patut diapresiasi. Dari hasil pemberdayaan anak jalanan, KPL Pansela berhasil melestarikan hutan mengrove di kawasan pantai tersebut. Masyarakat sekitar pantai wisata mulai memperoleh banyak manfaat dari keberadaan hutan mangrove itu.

Tak hanya keuntungan ekologi, mereka mendapat sumber ekonomi dari pembibitan kepiting dan udang yang mampu dijual dengan harga tinggi. Para nelayan pun mulai dapat menemukan kembali ikan terusan sejenis ikan kakap putih yang sudah puluhan tahun menghilang seiring rusaknya kawasan ekosistem hutan bakau.

‘’Kami menyadari potensi bencana di kawasan ini, sehingga perlu upaya penanganan pantai. Salah satunya dengan mengembalikan kawasan hutan mangrove ini agar dapat menahan abrasi pantai dan tsunami,’’ ujar Pembina KPL Pansela Sukamsi kepada Plengdut.com, baru-baru ini.

Pengembangan kawasan hutan mangrove di sepanjang muara Sungai Bodo juga diarahkan untuk wisata minat khusus edukasi. Para wisatawan dapat menyewa perahu dan menyusuri lebatnya wisata hutan bakau di sekitar kawasan itu. Termasuk edukasi mengenali pengembangan wisata ekosistem hutan bakau mulai dari pembibitan hutan hingga penanamanya.

Ekosistem mangrove menyajikan fenomena hutan alam yang beragam, mulai dari keanekaragaman jenis mangrove dan edukasi fauna seperti burung, mollusca (siput atau keong), ikan, jenis-jenis crustacea (kepiting) dan hewan-hewan lainnya. Para pengunjung bisa mendapatkan banyak ilmu pengetahuan tentang hutan mangrove dan fungsinya mangrove bagi lingkungan dan berbagai pengetahuan lainnya terkait wisata ekosistem mangrove.

Menyusuri wisata ke kawasan ini akan menambah pengetahuan dan pengalaman, karena ekosistem mangrove masih dalam tahap pertumbuhan.

Wisata Edukasi

Pengunjung tidak hanya dapat menyusuri serta menikmati keindahan panorama alam mangrove. Mereka pun dapat turut serta menjaga dan melestarikan hutan mangrove, salah satunya dengan cara menanam bibit pohon mangrove. ‘’Hutan mangrove selain sebagai penjaga garis pantai Kebumen, kini mangrove telah menjadi kawasan wisata edukasi,’’ ujarnya.

Atas dukungan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kebumen, telah dibangun satu gazebo yang berada di tengah-tengah wisata tanaman mangrove. Rencananya akan dibangun 10 tempat singgah, sedangkan gazebo yang telah dibangun tersebut sebagai bangunan induk menyusuri kelompok mangrove Kebumen.

Saat ini pengelola telah melakukan pengembangan alam hutan mangrove. Termasuk membangun jalur tracking yang nantinya menjadi jalan menyusuri bagi para wisatawan Kebumen. Setidaknya sepanjang 2,5 km jalur tracking dibangun memutari kawasan tersebut. Keberadaan hutan mangrove bukan sekadar objek wisata rekreasi namun juga dapat menjadi media wisata edukasi mangrove.

Menyusuri Hutan Mangrove : Para wisatawan menyusuri hutan mangrove sambil menikmati pemandangan wisata alam di sepanjang mangrove muara Sungai Bodo di kawasan Pantai Logending, Kecamatan Ayah.
Menyusuri Hutan Mangrove : Para wisatawan menyusuri hutan mangrove sambil menikmati pemandangan wisata alam di sepanjang mangrove muara Sungai Bodo di kawasan Pantai Logending, Kecamatan Ayah.

Menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Kebumen Adi Pandoyo, kawasan hutan mangrove memiliki potensi luar biasa. ‘’Saya berharap dengan dibukanya wisata ini nantinya Kebumen bukan hanya sebagai daerah lintasan, melainkan juga Kebumen menjadi daerah tujuan wisata,’’ujarnya.