Mengapa umat islam masih tertinggal? – Agama

kejayaan Islam

Pada dasarnya, umat Islam tertinggal karena kita sudah melupakan “tradisi” Islam itu sendiri. Sebagai contoh, bukankah didalam ajaran Islam salah satu hal yang terpenting ada lam membaca ? Bahkan ayat pertama yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca. Ambil contoh Indonesia, negara dengan masyarakat yang beragama ISlam terbesar di dunia, mempunyai budaya membaca yang sangat rendah. Data yang disampaikan dari studi Most Littered Nation In the World 2016 menyebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara yang disurvey. Indonesia berada pada peringkat ke 2 terbawah.

UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pernah merilis data yang menunjukkan bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001, artinya adalah dari seribu orang, hanya ada satu yang memiliki minat baca.

Membaca sangat identik dengan pendidikan, dan pendidikan adalah “investasi” terbaik bagi umat manusia. Bahkan di ajaran Islam, menempuh pendidikan disebandingkan dengan ber-Jihad. Satu hal yang menarik, mengutip pernyataannya Cak Nun, bahwa kita sering membedakan pelajaran agama dengan pelajaran non agama, dimana seakan-akan belajar Matematika, Fisika, Ekonomi dan lain sebagainya bukanlah pelajaran agama. Hal ini yang perlu diluruskan, karena semua Ilmu yang ada di Dunia ini sejatinya adalah ilmu Agama, karena semua ilmu di Dunia adalah milik Allah SWT.

Pendidikan dan membaca pastinya akan berdampak langsung terhadap masyarakat. Sebagai contoh, betapa sering kita dipertontonkan dengan “perdebatan-perdebatan”, baik di televisi maupun di media sosial. Bukankan berdebat (kusir) dilarang oleh agama Islam ? Tetapi kenyataannya, malah perdebatan yang hanya mementingkan menang-kalah yang membudaya. Sedangkan, tradisi Islam terkait dengan budaya berdiskusi, malah ditinggalkan.

Hal lain yang membuat umat Islam mengalami kemunduran adalah umat Islam sendiri sangat susah untuk bersatu, berpikir bersama-sama untuk kebaikan bersama. Coba lihat negara-negara di Arab, yang hingga saat inipun masih terjadi konflik diantara umat Islam sendiri. Kondisi yang sama, walaupun dalam bentuk yang berbeda, juga mulai muncul di Indonesia, betapa seringnya kita sesama umat Islam saling “bertengkar” sendiri hanya gara-gara perbedaan “baju” yang dikenakan. Kita masih sering membahas perbedaan-perbedaan yang ada, tetapi lupa dengan persamaan-persamaannya.

Dari kondisi tersebut saja sudah mencirikan bahwa kita lupa konsep agama Islam tentang Jamaah. Kekuatan manusia sejatinya adalah di kerjasama dan kelemahan manusia adalah di perpecahan. Banyak sekali ajaran-ajaran Islam yang membahas tentang hal itu, tetapi sekali lagi, kita sendiri “lupa” dengannya.

Tradisi Islam yang juga sering ditinggalkan adalah suka membantu orang lain. Tradisi ini terlihat sepele, tetapi mempunyai dampak yang sangat luar biasa. Banyak sekali penelitian yang membuktikan bahwa sifat suka membantu orang lain akan membuat kita menjadi kreatif dan inovatif. Bukankah kreativitas dan inovasi selalu ditujukan untuk membantu orang lain, atau dalam istilah ilmiahnya adalah memecahkan masalah orang lain ?

Banyak sekali perusahaan-perusahaan inovatif, semisal Microsoft, Google, Dell, Facebook, yang dibuat pertama kali hanya dengan niatan membantu orang lain, tanpa berpikir tentang keuntungan finansial.

Tanpa ada sifat suka membantu orang lain, maka yang muncul adalah sifat mementingkan diri sendiri. Ketika kepentingan diri sudah menjadi hal yang paling utama, maka yang terjadi adalah kita saling “berperang” sesama manusia untuk mendapatkan apa yang kita mau, tanpa perduli dengan orang lain.

Masih banyak lagi contoh-contoh tradisi Islam yang tidak dijalani oleh umatnya sendiri, dimana seakan-akan ajaran Islam menjadi asing di umat Islam sendiri. Hal itulah, melupakan tradisi Islam, yang menyebabkan umat Islam menjadi tertinggal.