Beras Medium HET Tidak Sesuai di Pasaran

Tidak bisa dipungkiri, ternyata “Harga Eceran Tertinggi” atau HET untuk pasaran beras medium sangat sulit diterapkan. Hal ini terlihat dalam kegiatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng yang mengecek pelaksanaan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras di Pasar Dargo Semarang, Kamis (5/10).

Dalam praktiknya regulasi batas tertinggi tersebut sulit diimplementasikan, perlu adanya revisi. Sebab, di pasaran ditemukan adanya beras jenis medium yang dijual melebihi HET (tertinggi, tidak sesuai). Kepala Disperindag Jateng, M Arif Sambodo mengatakan, pengecekan di pasar ini merupakan bagian dari upaya pengawasan Permendag 57 Tahun 2017 yang diterbitkan 1 September lalu 2017.

“Kami mengecek HET di lapangan, banyak beras yang sebetulnya mirip kelas medium namun dikatakan medium, ada juga yang pecah-pecahnya banyak menirnya masuknya ya beras medium. Bahkan yang pecahnya sampai 50% dianggap beras medium, sehingga memang sulit menetapkan HET beras medium,” paparnya didampingi Kepala Bidang Kabid Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, Mukti Sarjono dan Kabid Perdagangan Dalam Negeri Moch Santoso saat pengecekan di Pasar Dargo.

Oleh sebab itu, lanjut Arif, pihaknya akan mengumpulkan data dan informasi yang lengkap di lapangan untuk dilaporkan resmi ke Kementerian Perdagangan sebagai bahan masukan.

“Nah pengawasan ini dalam rangka mengumpulkan informasi berapa nilai jual tertinggi langsung dilapangan soal implementasi Permendag tersebut,” paparnya.

Harga Tidak Bisa Tertinggi

Sementara itu, salah satu pedagang beras di Pasar Dargo Semarang, Hendro Saputro mengaku tidak bisa menjual beras jenis medium di bawah HET yang telah dipatok pemerintah, yakni Rp 9.450 per kilogram.

Sebab, ada salah satu merek beras golongan medium yang dijual tertinggi Rp 9.800 per kilogram. “Itu harga saya beli sesuai dari pabrik, lho. Kan sudah di atas HET. Saya beli Rp 9.800, jualnya Rp 10 ribu. Nanti tingkat pengecer, pasti lebih tinggi lagi. Sampai tertinggi Rp 11 ribu per kilogram untuk eceran, jadi tidak mungkin dari tertinggi dijual turun, kalau turun kita rugi” ucap pedagang yang tokonya sebagai langganan tempat kulakan pengecer.

Contoh pasaran harga beras: Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng M Arif Sambodo (duduk) melihat contoh beras pasaran premium, dan pasaran medium di toko beras Jalan Dargo,Semarang, Kamis (5/10).
Contoh pasaran harga beras: Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng M Arif Sambodo (duduk) melihat contoh beras pasaran premium, dan pasaran medium di toko beras Jalan Dargo,Semarang, Kamis (5/10).

Karena itu, dia memberi masukan agar pemerintah tidak perlu menentukan HET beras medium. Dari pengalamannya, fluktuasi harga beras eceran kelas medium berjalan dengan sendirinya sesuai dengan hukum ekonomi pasar. Ketika terjadi panen raya, harga eceran akan turun. Sementara jika stok beras menipis karena sejumlah daerah gagal panen (tidak panen), otomatis harga eceran naik.

“Pembeli tidak pernah mempermasalahkan HET. Kalau pas beras mahal karena gagal panen, mereka memaklumi. Mereka beli, yang penting ada barangnya. Kalau pas panen raya, harga beras ya jatuh,” terangnya.

Pedagang yang sudah 10 tahun menjalankan usahanya ini juga mengkritisi mengenai penggolongan jenis premium dan medium. Sebab, perbedaan jenis medium cukup besar. Bahkan ada yang tingkat bulir pecahnya sedikit, masih digolongkan jenis medium.

“Itu masuknya medium kelas satu yang mendekati premium. Tapi kan HETnya tetap ikut kelas medium. Kalau dari pabrik harganya sudah tinggi, masa pedagang jualnya sesuai HET, itu nggak bisa. Biarlah harga beras sesuai mekanisme di pasaran, tidak perlu ada HET,” ujar dia.