Jutaan PCC Diproduksi di Purwokerto Pabrik Digerebek Bareskrim Polri

PURWOKERTO – Setelah mengungkap penyimpanan empat ton bahan baku PCC (paracetamol caffeine carisoprodol) di Cimahi, Jawa Barat, Bareskrim Polri menggerebek pabrik obat ilegal PCC itu di Purwokerto.

Pabrik tersebut diperkirakan telah memproduksi jutaan pil PCC yang diproduksi untuk diedarkan di berbagai daerah di Tanah Air. Kapasitas produksi PCC pabrik yang digerebek terletak di sebuah ruko di Jalan Raya Baturraden, Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Purwokerto Utara itu ratusan ribu butir PCC per hari sehingga dalam sebulan mampu memproduksi hingga jutaan.

Dua orang berinisial BB dan L digerebek & ditangkap. Tim Bareskrim yang dibantu Polres Banyumas menyita tiga mesin mixer, tiga mesin cetak PCC, dan sebuah mesin pengering dari tempat digerebek. Polisi juga menemukan empat tong obat PCC dan enam tong bahan baku campuran.

Wakil Direktur Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri Kombes John Turman Panjaitan mengungkapkan, penggerebekan pabrik Purwokerto ini merupakan pengembangan kasus penyitaan satu juta lebih butir PCC di Surabaya dan penggeledahan di Cimahi.

”Alurnya, bahan baku PCC dari Cimahi dikirim ke Purwokerto untuk diproduksi, kemudian jutaan obat yang telah diproduksi Purwokerto dikirim dan dikemas di Surabaya,” kata Bareskrim didampingi Kapolres Banyumas AKBP Azis Andriansyah.

”Pabrik ini dapat menghasilkan ratusan ribu butir PCC dalam semalam. Mesin pabrik cukup besar, alat pengering diproduksi berkapasitas 60 piringan, dalam satu piring mampu diproduksi 1.000 sampai 5.000 butir. PCC diproduksi dalam hitungan menit langsung jadi,” imbuhnya.

Pelaku menyamarkan tempat itu sebagai usaha air kemasan isi ulang. Mereka memasang instalasi air isi ulang di bagian depan ruko. Pabrik itu terdiri atas dua ruko yang digerebek dijadikan satu dengan penghubung sebuah pintu.

Salah satu ruangan di lantai dasar digunakan untuk tempat instalasi air kemasan. Ruang sebelahnya disekat menjadi dua, bagian depan untuk menyimpan bahan baku PCC dan bagian belakang untuk diproduksi mencetak pil PCC.

Di lantai atas juga terdapat dua ruangan. Masing-masing untuk mencampur bahan baku dan proses pengeringan PCC. Setiap ruangan dilengkapi peredam suara dan pendingin. Tidak ada ventilasi di lantai atas sehingga terasa pengap.

”Menurut informasi, pabrik PCC ini sudah beroperasi sekitar enam bulan. Kami telusuri produksinya, akhirnya ketemu tempat PCC ini, langsung digerebek” jelas John dari Bareskrim.

Pihak Bareskrim Polri terus mengembangkan kasus PCC ini dan memeriksa kedua tersangka untuk mengungkap lebih jauh rantai distribusi pil PCC tersebut.

Mesin Produksi: Wakil Direktur Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri Kombes John Turman Panjaitan menunjukkan mesin produksi PCC dalam penggrebekan di Purwokerto, Selasa (19/9). Insert : diproduksi Jutaan Barang bukti PCC.
Mesin Produksi: Wakil Direktur Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri Kombes John Turman Panjaitan menunjukkan mesin produksi PCC dalam penggrebekan di Purwokerto, Selasa (19/9). Insert : diproduksi Jutaan Barang bukti PCC.

Asal Tasikmalaya

Ketua RT 2 RW 1 Kelurahan Pabuaran Padmono Basuki Purwokerto mengatakan, penghuni di ruko itu kurang lebih lima orang yang digerebek mengaku dari Tasikmalaya. Mereka mengaku bekerja di pabrik pembuatan tripleks di Buntu, Kecamatan Kemranjen, Banyumas. ”Setahu saya mereka datang ke sini untuk tinggal, sekitar tiga bulan ini. Salah satu namanya Nurrohman, kalau tidak salah. Yang lain saya lupa,” kata dia.

Seorang warga Pabuaran Purwokerto, Budi Kurnianto, yang tinggal tak jauh dari pabrik PCC itu menuturkan, selama ini dia tidak pernah melihat aktivitas mencurigakan di ruko tersebut. Setahu Budi, ruko itu merupakan tempat penjualan air isi ulang.

”Sekitar sebulan yang lalu bagian depan ruko dipasangi teralis, katanya mau buat jual air isi ulang. Sebelumnya ruko itu kosong, malah dipasangi papan, akan dijual. Saya tidak tahu kok ada ramai-ramai, ternyata tempat ini pabrik diproduksi pil PCC,” ujar dia.

Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Banyumas AKBP Aziz Nurwanto Sulistiyo menjelaskan, penggerebekan Bareskrim ini membuktikan bahwa Banyumas dalam ancaman jutaan penyalahgunaan dan peredaran narkoba PCC.

”Sinyalemen kami bahwa anak-anak usia sekolah dalam bahaya narkoba, terbukti. Karena itu seluruh komponen masyarakat, khususnya dunia pendidikan, harus siaga satu,” kata dia. Berdasarkan data BNN, kata dia, peredaran atau penyalahgunaan narkoba yang digerebek terungkap hanya 20 persen dari jumlah sesungguhnya.

Artinya, 80 persen barang haram tersebut masih beredar luas dan belum digerebek. ”Bahkan bisa jadi di rumah kita juga ada narkoba. Khusus anak-anak, kami imbau betul betul berhati-hati memilih teman. Salah pilih, fatal akibatnya,” ujar dia.