Grobogan Kekurangan Guru ASN SD

Jumlah kekurangan guru SD di Kabupaten Grobogan, masuk dalam kategori mengkhawatirkan. Dari jumlah keseluruhan 6.867 orang, 3.183 di antaranya masih berstatus wiyata bakti. Jumlah tersebut tersebar di 792 SD di Kabupaten Grobogan.

Kepala Dinas Pendidikan, Pudjo Albachrun mengatakan dalam 2017 ini, ada 160 guru SD yang berstatus ASN akan pensiun. Sementara pada dua tahun mendatang, diperkirakan tiga kali lipat pensiun ASN dari jumlah tersebut.

Perbandingan guru berstatus ASN dan wiyata bakti pun, diprediksi sekitar 30 persen banding 70 persen. “Kalau moratorium tentang pengangkatan guru SD masih berlanjut, bisa-bisa dua sampai tiga tahun ke depan kekurangan, maka habislah guru SD berstatus ASN di Grobogan. Kami sudah mencoba menyampaikan kekurangan ini pada Kementerian, tetapi dari pusat sudah memiliki data sendiri dari Dapodik,” katanya, kemarin.

Dari penuturannya, guru wiyata bakti di Grobogan hanya mendapatkan gaji dari dana BOS. Itu disebabkan APBD Pemkab Grobogan kekurangan tak mampu mencukupi kebutuhan tersebut. Apalagi diperkirakan jumlah guru wiyata bakti terus meningkat.

Utamakan Wiyata Bakti Grobogan

Menurutnya, pengisian formasi pada guru SD harus segera digelar. Di samping itu, pengisian formasi harus mengutamakan mereka yang masih berstatus wiyata bakti. Itu untuk mencukupi kebutuhan dan meningkatkan kualitas pendidikan di Grobogan.
Menurutnya, pengisian formasi pada guru SD harus segera digelar. Di samping itu, pengisian formasi harus mengutamakan mereka yang masih berstatus wiyata bakti. Itu untuk mencukupi kebutuhan dan meningkatkan kualitas pendidikan di Grobogan.

“Berbeda dengan guru K2, yang saat ini sudah mulai ada kejelasan. Guru wiyata bakti ini perlu mendapatkan perhatian. Apalagi jumlah di SD cukup banyak,” jelasnya.

Di samping itu, dari pendataan yang dilakukan Dinas Pendidikan, rata-rata di SD kekurangan hanya memiliki dua atau tiga guru guru berstatus ASN. Bahkan ada SD, yang kekurangan ASN nya hanya ada ASN kepala sekolah SD dan penjaga sekolah.

Kondisi kekurangan itu membuat Pudji Albachrun terkejut. “Saat pertama kali menjabat Kadisdik, saya terkejut setelah mendapatkan laporan kekurangan dari teman-teman. Saya pun langsung ke lapangan. Ternyata, rata-rata guru guru ASN guru SD di daerah pinggiran, kekurangan, jumlahnya sedikit,” ujarnya.