Hari Kesaktian Novanto, Netizen Ramaikan Hashtag on Twitter dengan #ThePowerOfSetnov

#ThePowerOfSetnov Putusan Cepi Lukai Publik

Jika pada awal bulan Oktober, kita selalu dengan bangga mengenang kejadian “Hari Kesaktian Pancasila”, lain halnya dengan yang di lakukan netizen di twitter kali ini.

Bertepatan 1 Oktober 2017, hashtag on twitter ramai dipenuhi tagar hashtag #ThePowerOfSetnov sebagai peringatan hari kesaktian Novanto. Hashtag #ThePowerOfSetnov berisi berbagai guyonan jenaka berupa sindiran tentang kesaktian kekuatan Novanto #ThePowerOfSetnov terkait putusan Hakim Cepi yang meloloskannya dari jerat kasus korupsi E-KTP di sidang praperadilan.

Bahkan hingga berita ini diturunkan, hastag netizen #ThePowerOfSetnov yang menggambarkan kesaktian Setnov masih terus ramaikan twitter dengan status-status hashtag lucu netizen menyindir Novanto, Ketua DPRD ini.

Berikut beberapa isi candaan netizen #ThePowerOfSetnov tentang kesaktian Setnov di beberapa medsos seperti twitter:

@maksumjannah: #ThePowerOfSetnov setya novanto tersandung batu, batunya di pidana.
@elamcihuy: kesaktian Setya Novanto ke toilet ketika nonton bioskop, filmnya dipause #ThePowerOfSetnov
@WD_Pratiwi: Set nov masuk rumah sakit, rumah sakitnya yg langsung sakit. #ThePowerOfSetnov
@anangmaul: Emailnya Setya Novanto [email protected] kesaktian #ThePowerOfSetnov
@ikramarki: Setya Novanto ikut upacara, yang hormat benderanya #ThePowerOfSetnov
@kekikian : Setya Novanto kena tilang, yang sidang polisinya Kolega Novanto #ThePowerOfSetnov

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyebut ramainya hashtag tagar #ThePowerOfSetnov twitter sebagai bentuk kreativitas netizen. Yang penting, saat ramaikan hashtag tidak ada hinaan atau fitnah di media sosial.

“Mungkin #ThePowerOfSetnov itu bagian dari kreativitas. Selama isi twitter tidak menghina atau mencemarkan nama baik, ya itu ikut ramaikan sebagai hiburan saja,” ujar Ketua Fadli Zon, Minggu (1/10).

Dia meminta semua pihak tidak terus berpolemik, dan menghormati putusan praperadilan Hakim Cepi Iskandar. Dalam putusannya, Cepi menyatakan penetapan status tersangka Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP, tidak sah.

Ramaikan Aksi Massa: Massa dari Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi melakukan aksi "Indonesia Berkabung"di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (1/10).
Ramaikan Aksi Massa: Massa dari Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi melakukan aksi “Indonesia Berkabung”di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (1/10).

“Semua pihak harus bisa menghormati,” kata Fadli. Dia juga mengatakan, Setya Novanto masih layak menjabat Ketua DPR. Hal itu sesuai UU No 7 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPRD, dan DPD (MD3).

“Aturan main kita adalah undang-undang. UU MD3 kan tidak ada masalah. Tidak ada alasan yang melarang Pak Novanto,” tandas Fadli. Berbeda dengan netizen #ThePowerOfSetnov, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengaku senang atas putusan praperadilan terhadap Novanto.

“Saya baru pulang dari Istanbul mengganti Pak Nov. Gara-gara dia jadi tersangka, saya memimpin pertemuan yang harusnya dihadiri oleh ketua-ketua parlemen. Saya mendengar beliau dibebaskan ya Alhamdulillah, tentu ikut senang dengan apa yang terjadi pada beliau,” kata Fahri.

Fahri menilai, dakwaan KPK dalam kasus korupsi E-KTP hanya karangan. Dia bahkan menganggap KPK hanya mengembangkan dengan berita jurnalitisik, bukan peristiwa hukum.

Masyarakat Resah, Contoh Buruk Generasi Muda

Terpisah, Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi menilai, putusan Hakim Cepi Iskandar mengecewakan dan melukai kepercayaan publik. Putusan itu hanya menyenangkan Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

“Karena putusannya membuat bahagia Setya Novanto. Bahagia dengan kroni serta golongannya. Masyarakat Indonesia yang ingin ramaikan kasus E-KTP selesai, kecewa dan semakin resah. Kasus ini tidak akan selesai,” ujar Koordinator Aksi Masyarakat Anti Korupsi, Ahmad Sajali di Bundaran Hotel Indonesia.

Koalisi menggelar aksi jalan santai di acara car free day (CFD). Mereka menyebut ada kejanggalan-kejanggalan dalam proses praperadilan yang membuat status tersangka Novanto lepas.

Karena itu, koalisi yang terdiri atas berbagai lembaga swadaya masyarakat, seperti Indonesia Corruption Watch (ICW), Amnesty International, Gerakan Anti Korupsi (GAK), Youth Proaktif, dan LBH Jakarta mengajak masyarakat menunjukkan kekecewaan atas putusan praperadilan itu di media sosial dengan tanda pagar (tagar) #ThePowerOfSetnov, #sprindikbaru dan #tahansetnov.

Mereka juga menuntut tiga hal. Pertama, meminta KPK mengeluarkan Sprindik baru terhadap Novanto. Kemudian, meminta Komisi Yudisial (KY) mengevaluasi hakim Cepi dan terakhir meminta KPK menahan Novanto.

“Kami ingin KPK menerbitkan Sprindik bukan hanya untuk diselidiki dan diperiksa karena berkelit sakit, melainkan juga untuk ditahan. Kalau sakit bisa ditangani dokter KPK atau dokter lain yang kapabel sesuai dengan aturan hukum,” tandas Ahmad.

Sementara itu, Ketua Institut Harkat Negeri (IHN) Sudirman Said menilai, Setya Novanto yang kembali lolos dari jerat hukum adalah pelajaran yang tidak baik bagi generasi muda. Praperadilan yang mengabulkan tuntutan Ketua DPR itu dianggap sebagai permainan hukum.

“Hari-hari ini, nurani rakyat terluka oleh perilaku akrobatik salah satu elite politik yang berkuasa, bernama Setya Novanto. Sungguh ini pertunjukan amat buruk buat generasi muda,” kata Sudirman dalam rilis yang diterima plengdut.com.

Menurut Sudirman yang juga bakal calon Gubernur Jateng itu, masyarakat menjadi saksi dari waktu ke waktu tokoh kontroversial ini lolos dari jerat hukum. Ditengarai, dia terlibat dalam deretan kasus demi kasus dan selalu lolos. Meski demikian, publik bisa merasakan walau sulit membuktikan.

“Dalam urusan E-KTP, reaksi publik sungguh masif. Dalam diam mereka mencerna. Hakim praperadilan meloloskan dia dari status tersangka,” lanjut Sudirman.

Ironisnya, ini terjadi ketika rakyat sedang menyongsong peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Nurani rakyat terluka, karena keluhuran Pancasila tidak ditampilkan oleh elite politik bangsa.

Menurutnya, Pancasila adalah buah pikiran dan olah jiwa luar biasa yang dihasilkan para pendiri bangsa. Lima kata kunci dalam pancasila menjadi pedoman dalam menjadikan Indonesia, mengurus, dan membangunnya.

Ketuhanan sebagai landasan moral, kemanusiaan sebagai jiwa dan semangat bernegara, persatuan yang mengikat kemajemukan, musyawarah dan hikmat kebijaksanaan sebagai cara mengelola, dan keadilan sosial sebagai tujuan bernegara.

Sudirman menyebut, mencuri, korupsi, menyuap hakim, menggunakan pengacara “hitam” untuk berperkara, melemahkan lembaga penegak hukum seperti KPK, menggempur sistem peradilan dengan suap adalah tindakan-tindakan ramaikan anti Pancasila.

“Sementara, rakyat kecil bekerja keras memperjuangkan hidup. Bahkan, banyak di antaranya yang berkorban menjaga martabat bangsa. Ironis sekali kalau di antara elite yang berkuasa terus-menerus ramaikan menghancurkan harga diri dan reputasi negara.

Meski demikian, saya berdoa semoga Setya Novanto dan para kolega tidak sedang menghancurkan sendi-sendi Pancasila,” tutur dosen Kepemimpinan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sudirman pernah berseteru dengan Setnov saat masih menjabat sebagai Menteri ESDM. Keduanya ramai dibicarakan perihal kasus “Papa Minta Saham”.