Banjir Cilacap, Jalan Kota Jadi Mirip Kolam Akibat Curah Hujan Tinggi

Cilacap dikepung banjir, ratusan warga dievakuasi. Hujan deras yang turun sejak Jumat malam (6/10) menyebabkan banjir di Kota Cilacap. Air tidak hanya menggenangi berbagai ruas jalan kota Cilacap, tapi juga masuk ke permukiman penduduk kota, rumah sakit, sekolah, masjid, dan pertokoan.

Tak hanya di wilayah kota, banjir juga melanda Desa Kawunganten dan Desa Kalijeruk, Kecamatan Kawunganten. Ketinggian air di beberapa titik mencapai 1-2 meter. Akibatnya, sekitar 420 warga Desa Kalijeruk atau 86 keluarga dievakuasi.

Mereka diangkut dengan perahu karet oleh tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama anggota TNI. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.

“Jadi warga dievakuasi karena akibat ketinggian air yang menggenangi rumah mereka sekitar satu meter. Di jalan, ketinggian air bahkan 1,5 meter sampai tinggi dua meter,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap Tri Komara Sidhy Wijayanto, Sabtu (7/10).

gambar Banjir Cilacap, Jalan Kota Jadi Mirip Kolam Akibat Curah Hujan Tinggi hd wallpaper background plengdut.com

Ruas jalan di wilayah perkotaan yang tergenang hingga mirip sungai antara lain Jalan Bali, Jalan Dr Radjiman, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Juanda, jalan di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Surengrono, dan depan Bandara Tunggul Wulung.

Genangan Mirip Kolam

Genangan air di sejumlah ruas jalan yang mirip seperti kolam menyebabkan arus lalu lintas jadi terhambat. Banyak warga terjebak dan sepeda motor mereka mogok lantaran nekat menerobos banjir. Adapun permukiman yang tergenang antara lain Perumahan Gumilir Indah, Perumahan Bumi Ketapang Damai (BKD), Perumahan Bayur, dan beberapa hunian penduduk di Kecamatan Cilacap Tengah dan Kecamatan Cilacap Utara.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap dan Rumah Sakit Islam (RSI) Fatimah juga kebanjiran. Air menggenang setinggi betis mirip layaknya sebuah kolam. Pelayanan medis sedikit terganggu, namun tidak sampai menimbulkan dampak yang fatal.

“Mengenai nilai kerugian, kami belum jadi menghitung karena semua personel BPBD masih konsentrasi mengevakuasi warga, mendirikan dapur umur, dan memonitor wilayah lain yang kebanjiran,” papar Tri Komara.

Hujan juga memicu tanah longsor di jalur kereta api Jeruklegi km 375+0/1. Kejadian itu sempat menghambat perjalanan KASerayu.

Banjir tersebut dipicu akibat curah hujan yang sangat tinggi sejak Jumat malam hingga Sabtu siang. Berdasarkan hasil pengukuran curah hujan harian di Stasiun Meteorologi Cilacap hingga Sabtu pukul 07.00, curah hujan tercatat tinggi sekitar 171,6 milimeter. Angka tersebut tergolong nilai curah ekstrem.

“Bahkan curah hujan di sekitar Bandara Tunggul Wulung, Kecamatan Jeruklegi pada Sabtu pagi 298 milimeter,” kata Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap Teguh Wardoyo.

BMKG mengimbau warga Cilacap mewaspadai kondisi ini. Dikatakannya, sebagian wilayah Cilacap, khususnya Kecamatan Cilacap Selatan, memasuki awal musim hujan pada dasarian (10 hari) pertama Oktober 2017.

Curah hujan ekstrem sejak Jumat malam sampai Sabtu siang itu juga dipengaruhi oleh munculnya daerah pusat tekanan rendah. “Berdasarkan hasil pemantauan citra satelit, di Australia bagian utara terdapat daerah pusat tekanan rendah yang tekanannya saat ini 1.005 milibar. Akibat munculnya daerah pusat tekanan rendah ini mempengaruhi curah hujan ekstrem di Cilacap,” jelas Teguh.

Musibah Longsor Dusun Sangkan di Pangandaran

Curah hujan tinggi juga memicu bencana alam di wilayah selatan Jawa lainnya, yakni Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Empat warga meninggal akibat tertimbun longsor di Dusun Sangkan Bawang, Desa Kalijati, Kecamatan Sidamulih.

Mereka tinggal di satu rumah, yakni Arsih (55), Uyun (35), dan dua anak yaitu Aldi (5) dan Andika (10 bulan). Longsor menimpa rumah korban, Sabtu sekitar pukul 00.30.

“Kejadian tersebut dipicu akibat hujan lebat dengan curah tinggi di kawasan itu,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Kombes Yusri Yunus yang menerima laporan dari jajaran kepolisian di Pangandaran. Menurut informasi yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), longsor menimpa dua rumah.

Selain korban tewas, longsor tersebut menyebabkan tiga orang lainnya mengalami luka ringan, termasuk seorang bayi berusia delapan bulan. Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama awal musim hujan ini.

“Meskipun secara keseluruhan baru masuk musim hujan pada awal November mendatang, musim kemarau telah menyebabkan tanah-tanah retak, mudah terisi aliran permukaan seperti kolam penampung saat hujan sehingga dapat memicu longsor,” paparnya.