Tragedi Cibinong: Property Militer Bukan Alat Intimidasi Rakyat Sipil

Kepala Pusat Penerangan TNI Tatang SulaimanTragedi daerah Cibinong yang menewaskan seorang pengemudi ojek dengan pelaku oknum TNI perlu dikaji ulang. “Property yang seharusnya digunakan untuk kepentingan militer saat ini malah dijadikan sebagai alat untuk intimidasi masyarakat sipil di jalan.”

“Jika kita perhatikan kembali kronologi penembakan yang dilakukan oknum TNI terhadap tukang ojek di daerah Cibinong ini, masalah yang terjadi sebenarnya hanya sepele seperti yang sering terjadi pada pengguna jalan umunya. Tidak perlu mengeluarkan senjata untuk menghilangkan nyawa orang lain karena merasa benar. Negara kita ini negara hukum dimana sudah ada peraturan dan Undang-undang tertulis tentang pengguna jalan raya. ”

“Kalau langsung main tembak, terus apa gunanya polisi dan penegak hukum yang sedianya selalu menerima laporan tentang pelanggaran lalu lintas di jalan raya?” ujar pemilik situs plengdut.com menanggapi kasus penembakan Cibinong yang terjadi.

“Tindakan penembakan oleh Serda Yoyok menandakan bahwa arogansi militer belum sepenuhnya hilang” kata Haris Azhar yang merupakan Koordinator Kontras.

Menurutnya “Saat ini tinggat arogansi militer sudah tidak terlalu tinggi, tapi masih tetap ada. Sehingga suatu saat jika terjadi benturan dengan rakyat sipil, maka mereka lebih memilih gaya militer ketimbang diselesaikan dengan kepala dingin.”

“Militeristik yang di dapat anggota TNI dalam pelatihan umumnya digunakan untuk keadaan di medan tempur, bukan dalam bentuk interaksi damai dengan rakyat sipil. Haris juga mengatakan bahwa reformasi militer saat ini masih berupa jargon belaka. Akan tetapi masalahnya bukan hanya reformasi jargon, ini mengenai sistem dan budaya yang mereka rawat dimana sejak masuk Akmil dilatih gaya militer, sedangkan saat ini medan tempur sudah tidak ada”

Perlu juga diajarkan bagaiman cara hidup berdampingan dalam masyarakat sipil dan apa saja Undang-undang dan peraturan yang berlaku di Negara ini, sehingga jika terjadi benturan dengan rakyat sipil bisa diselesaikan dengan kepala dingin melalui peraturan yang ada, tidak langsung main “dor” di jalan.

Kepala Pusat Penerangan TNI Tatang Sulaiman juga sangat menyayangkan terjadinya kejadian penembakan ini. Menurutnya, tindakan yang dilakukan Serda Yoyok ini bisa menimbulkan kesan Arogansi dan menakutkan bagi masyarakat terhadap TNI.

“Pelaku penembakan kemarin langsung diamankan dan otomatis proses hukum akan berlanjut dan akan diadili secara militer dan terbuka” ujar Tatang.

“Kami sendiri masih tidak habis pikir, hanya dikarenakan masalah sepele langsung main “dor”. Prihatin sudah pasti, dikarenakan hubungan baik yang mulai terbangun dengan masyarakat yang berusaha kami bangun malah dirusak dengan memberikan musibah bagi masyarakat” ujarnya.